Cahaya cinta…
Langit mendung menyingsing terbitnya fajar, gemuruh-gemuruh petir terdengar saling bersahutan, para mahasiswa langsung berlarian menuju motor mereka masing-masing. Rintikan air hujan mulai turun perlahan kemudian deras dan air menguyur bumi dengan cepat, aku memilih tuk menunggu hujan reda baru pulang, kulihat sekitarku masih banyak mahasiswa yang juga menunggu, bahkan ada beberapa mahasiswa yang kembali setalah pergi, tapi ada juga yang langsung pergi di lebatnya hujan ini.
Sekarang memang musim hujan, walau yang turun hanya air, bukan batu, tetap saja kebanyakan orang lebih memilih berteduh, aku tidak tahu apa alasan mereka, takut basah, mungkin. Kalau aku sendiri bukan itu alaannya, aku hanya takut buku-bukuku pada basah, semua isi buku ini adalah semua catatan berharga yang telah kutulis selama empat tahun ini, kuliah di UNISKA memang tidak bisa dibawa santai, aku ingin lebih cepat lulus, lebih baik.
Hujan mulai mereda diiringi oleh lantunan suara azan, sekali lagi aku lebih memilih untuk menunda pulangku, aku berjalan menuju musholla kampus tak jauh dari tempat aku berdiri tadi, kulihat beberapa mahasiswa ada yang langsung pulang, hanya sedikit yang tinggal tuk sholat, apalagi ini magrib, aku selalu diperingatakan nenekku dulu, kalau magrib lebih baik istirahat dulu, mampir di musholla terdekat, karena dari dulu begitu jadi kebiasaan, aku cukup sami’na wa atho’na, biar selamat dunia akhirat.
…
Selasa, 01 Februari 2011
ucapan rindu di malam terakhir
Ucapan rindu di malam terakhir…
BULAN PUASA akhirnya tiba, sebuah bulan penuh berkah, dimana-mana selalu dipenuhi dengan berkah dan ampunan, dalam sahur ada pahala, dalam berbuka begitu banyak nikmatnya, juga bulan libur panjang setelah menetap sepuluh hari di pondok. Semua santri pada bergembira menyambutnya, entah apa yang membuat mereka begitu senang, tapi satu hal yang pasti, utlah (libur). Bagi kami tidak hanya mengharap libur pulang di rumah, di pesantren juga bisa dianggap libur, karena semua kegiatan dihentikan, jam sekolah dipendekkan, bahkan ustadnya juga hanya sedikit yang mau mengajar, itu juga yang memiliki keihklasan tertinggi yang mau mengajar sepenuh hati selama bulan puasa. Yang biasa sembunyi-sembunyi tidur di waktu jam pelajaran, saat bulan puasa berani terang-terangan, karena sekarang tidak sendiri, yang lain juga ikutan.
Hari pertama memasuki ramadhan begitu indah rasanya, aku sebagai salah satu panitia penyaji konsumsi buat berbuka mulai sibuk, sore ketika berbuka sibuk, malam ketika tarawih sibuk, aku dan panitia lainnya menanggung amanah yang sangat besar, yaitu menyediakan makanan dan minuman berbuka buat beratus-ratus santri. Belum lagi buat kami sendiri, untungnya dana yang masuk setiap tahunya mencapai lebih dari cukup, jadi sudah pasti, buat buka juga selalu lebih, tapi kami tidak berani mengambil hak-hak itu untuk kepentingan sendiri, kalau di kantor istilahnya korupsi, haram… karena akan di pertanggung jawabkan nantinya, walau kadang ada juga para santri yang berinsiatif dengan menyebut itu tidak haram, melainkan hanya subhat, yang artinya antara halal dan haram tapi mendekati haram, hampir sama kan?...
Memasak air, membikin air syrup, dan membagikannya kepada para santri yang sudah antri buat buka puasa, begitulah tugasku sebagai salah satu panitia. memasak dan membagi kadang tidak menjadi soal, yang sering menjadi soal adalah membikin minuman itu sendiri, apakah manisnya sudah pas, kurang atau terlalu manis, ini yang harus kami perhatikan, maka sebagai pengurus kami mencicipi minuman itu di ujung lidah sebagaimana cara yang diperintahkan rasul, tapi kebiasaan di pondok kami, selang beberapa menit kemudian, ada lagi yang mencoba satu, setelah itu ada lagi, apa tidak cukup satu. Dan aku sebagai salah satu panitia juga tidak mau kalah, harus ikut mencicipi.
Tarawih bersama diimami oleh kaka kelas kami, yang juga masih berstatus sebagai santri. Tapi sudah senior dan dipanggil dengan gelar muallim, kalau aku sekarang hanya sekedar mudabbir, tahun depan pasti jadi muallim juga, dalam tarawih kadang aku lihat dulu siapa imamnya, kalau kawanan peci dan sarung, pasti lama, jadi tarawih malam ini ditunda dulu dengan alasan tugas panitia, tapi kalau imamnya para kawanan netral, pasti pengin cepat juga bawaannya, jadi tarawih malam ini dilaksanakan.
Di pondokku terbagi tiga kelompok, yang pertama kelompok peci dan sarung, yaitu para santri yang suka sekali beribadah, kemana-mana pakai peci setiap bertemu selalu tersenyum dan menyebarkan salam lebih dulu, hapalan alqurannya sudah pasti banyak. Dan yang kedua adalah para broken, ini adalah kelompok dari para santri yang suka sekali melanggar, sholat sering di kamar, ngaji jarang, pakai peci Cuma buat sholat, salam Cuma buat mencari muka, begitulah mereka, dari ciri-ciri sudah pasti, kebanyakan dari mereka tidak berambut, botak. Hapalan mereka sudah pasti jangan ditanya, sedikit. Kalau yang ketiga ini, kelompok netral, menurutku aku termasuk salah satu dari kawanan ini, para santrinya tidak memihak manapun, kalau gabung sama kelompok peci dan sarung, maka ikutan alim, kalau gabung sama kelompok broken, maka ikutan melanggar, tapi sewajarnya. Begitulah ketiga kelompok yang sudah ada turun-temurun sejak dulu.
Seusai tarawih para santri junior berlarian ke kamar mengambil gelas, tuk mengambil air yang kami sediakan, juga tho’am, (makanan ringan,) snack, tapi ada juga yang masih membaca alquran, target mereka jelas, sepuluh hari khatam satu alqur’an.
Aku kadang iri melihat para santri yang masih bisa santai mengaji, tapi aku panitia, terlalu banyak tugas dan tanggung jawab, maka aku berinsiatif waktu liburan inilah aku akan mengahatamakan alqur’an, paling tidak satu kali.
…
BULAN PUASA akhirnya tiba, sebuah bulan penuh berkah, dimana-mana selalu dipenuhi dengan berkah dan ampunan, dalam sahur ada pahala, dalam berbuka begitu banyak nikmatnya, juga bulan libur panjang setelah menetap sepuluh hari di pondok. Semua santri pada bergembira menyambutnya, entah apa yang membuat mereka begitu senang, tapi satu hal yang pasti, utlah (libur). Bagi kami tidak hanya mengharap libur pulang di rumah, di pesantren juga bisa dianggap libur, karena semua kegiatan dihentikan, jam sekolah dipendekkan, bahkan ustadnya juga hanya sedikit yang mau mengajar, itu juga yang memiliki keihklasan tertinggi yang mau mengajar sepenuh hati selama bulan puasa. Yang biasa sembunyi-sembunyi tidur di waktu jam pelajaran, saat bulan puasa berani terang-terangan, karena sekarang tidak sendiri, yang lain juga ikutan.
Hari pertama memasuki ramadhan begitu indah rasanya, aku sebagai salah satu panitia penyaji konsumsi buat berbuka mulai sibuk, sore ketika berbuka sibuk, malam ketika tarawih sibuk, aku dan panitia lainnya menanggung amanah yang sangat besar, yaitu menyediakan makanan dan minuman berbuka buat beratus-ratus santri. Belum lagi buat kami sendiri, untungnya dana yang masuk setiap tahunya mencapai lebih dari cukup, jadi sudah pasti, buat buka juga selalu lebih, tapi kami tidak berani mengambil hak-hak itu untuk kepentingan sendiri, kalau di kantor istilahnya korupsi, haram… karena akan di pertanggung jawabkan nantinya, walau kadang ada juga para santri yang berinsiatif dengan menyebut itu tidak haram, melainkan hanya subhat, yang artinya antara halal dan haram tapi mendekati haram, hampir sama kan?...
Memasak air, membikin air syrup, dan membagikannya kepada para santri yang sudah antri buat buka puasa, begitulah tugasku sebagai salah satu panitia. memasak dan membagi kadang tidak menjadi soal, yang sering menjadi soal adalah membikin minuman itu sendiri, apakah manisnya sudah pas, kurang atau terlalu manis, ini yang harus kami perhatikan, maka sebagai pengurus kami mencicipi minuman itu di ujung lidah sebagaimana cara yang diperintahkan rasul, tapi kebiasaan di pondok kami, selang beberapa menit kemudian, ada lagi yang mencoba satu, setelah itu ada lagi, apa tidak cukup satu. Dan aku sebagai salah satu panitia juga tidak mau kalah, harus ikut mencicipi.
Tarawih bersama diimami oleh kaka kelas kami, yang juga masih berstatus sebagai santri. Tapi sudah senior dan dipanggil dengan gelar muallim, kalau aku sekarang hanya sekedar mudabbir, tahun depan pasti jadi muallim juga, dalam tarawih kadang aku lihat dulu siapa imamnya, kalau kawanan peci dan sarung, pasti lama, jadi tarawih malam ini ditunda dulu dengan alasan tugas panitia, tapi kalau imamnya para kawanan netral, pasti pengin cepat juga bawaannya, jadi tarawih malam ini dilaksanakan.
Di pondokku terbagi tiga kelompok, yang pertama kelompok peci dan sarung, yaitu para santri yang suka sekali beribadah, kemana-mana pakai peci setiap bertemu selalu tersenyum dan menyebarkan salam lebih dulu, hapalan alqurannya sudah pasti banyak. Dan yang kedua adalah para broken, ini adalah kelompok dari para santri yang suka sekali melanggar, sholat sering di kamar, ngaji jarang, pakai peci Cuma buat sholat, salam Cuma buat mencari muka, begitulah mereka, dari ciri-ciri sudah pasti, kebanyakan dari mereka tidak berambut, botak. Hapalan mereka sudah pasti jangan ditanya, sedikit. Kalau yang ketiga ini, kelompok netral, menurutku aku termasuk salah satu dari kawanan ini, para santrinya tidak memihak manapun, kalau gabung sama kelompok peci dan sarung, maka ikutan alim, kalau gabung sama kelompok broken, maka ikutan melanggar, tapi sewajarnya. Begitulah ketiga kelompok yang sudah ada turun-temurun sejak dulu.
Seusai tarawih para santri junior berlarian ke kamar mengambil gelas, tuk mengambil air yang kami sediakan, juga tho’am, (makanan ringan,) snack, tapi ada juga yang masih membaca alquran, target mereka jelas, sepuluh hari khatam satu alqur’an.
Aku kadang iri melihat para santri yang masih bisa santai mengaji, tapi aku panitia, terlalu banyak tugas dan tanggung jawab, maka aku berinsiatif waktu liburan inilah aku akan mengahatamakan alqur’an, paling tidak satu kali.
…
hati yang tertolak
Hati yang tertolak …
Asap mengepul keluar dari mulut Andre, sebuah rokok baru menyala, api membakar perlahan cengkeh yang berisi sebuah kehancuran bagi setiap organ yang dimasukinya. Malam ini kembali Andre memutuskan hubungannya dengan salah seorang pacarnya, entah yang keberapa, sudah tak terhitung jumlah perempuan yang sakit hati gara-gara dirinya, yang sendirinya suka sekali memainkan perempuan. Dengan tenangnya dia menghidupkan mobilnya, dan meninggalkan seorang perempuan yang sudah dia putuskan hubungnnya itu di pinggir jalan.
“ BRENGSEK KAU DRE “ bentak perempuan itu dengan linangan air mata, kata-kata kasar terus keluar dari mulutnya, sedangkan sikap dari Andre Cuma acuh tak acuh melambai pergi.
Begitulah cinta, walau pertama sang lelaki yang berusaha mendapatkan hati sang perempuan, berbagai cara dia lakukan, segalanya dia berikan, apapun dia lakukan hanya tuk mendapatkan hati gadis pujaanya, walau sang gadis tak suka, bahkan benci bisa menjadi sayang yang tak terungkap, tapi fakta telah banyak bicara, semakin gadis itu mencintai sang lelaki, semakin lelaki itu berkurang rasa sayangnya. Dan kebanyakan dari akhir percintaan yang tidak suci ini selalu berakhir dengan tangis dan air mata perempuan, karena perempuan berpikir menggunakan perasaan, sedangkan lelaki menggunakan logika yang bisa bosan dengan hal yang sudah terlalu lama dia miliki.
…
“ kau putusi lagi si Siska dre ?” Tanya Boby, salah satu temannya Andre.
Andre mengangguk santai sambil menghisap coca colanya.
“ dasar kau ini, kapan kau berhenti memainkan perempuan ?” Boby mulai menghisap minuman pesanannya.
Andre menoleh “ sampai aku menemukan seseorang yang pas dengan cinta sejatiku “.
“ kalau itu mustahil kawan ?” Zupri tiba-tiba datang dan langsung duduk berhadapan dengan Andre” karena cinta sejati itu tidak ada, dan semua teori sudah menyatakan cinta sejati itu adanya setelah menikah” Zupri teman Andre yang sering dipanggil ustadz, karena masih ada hubungan keluarga maka Andre juga berteman dengannya, kalau tidak ya tidak mungkin Andre yang badung bisa berteman dengan Zupri yang alim.
Andre menatap Zupri, tapi tidak menjawab, Boby berkali-kali menyenggol lengan Andre tuk menjauh, tapi Andre tetap tidak bergeming, Zupri menatap Andre heran, kemudian dia mengikuti arah kemana mata Andre saat ini. Zupri mengangguk mafhum, diisratkannya pada Boby, Boby menengok dan manggut-manggut mafhum. Ternyata pandangan Andre saat ini sedang tertuju pada Aisyah, yang sedang berjalan ke kantin.
“ mangsa baru nih “ goda Boby, dan saat itu baru Andre tersadar.
“ ah ngga, apaan sih lu bob “ Andre tidak mengakui.
“ kalau dia bukan seperti perempuan yang biasa jatuh hati padamu dre, dia anggota rohis, anaknya ustadz subky” tambah Zupri.
Andre masih tidak mengakui apa yang telah dia alami, dengan cepat dia menghisap minumannya dan beranjak pergi meninggalkan Zupri. Di kantin.
…
Tak lama setelah pulang sekolah, Andre datang bertamu ke rumah Zupri, Zupri yang baru saja pulang dari mesjid seusai ashar menerma teman sekaligus kerabar jauhnya itu. Dengan sopan Zupri mempersilahkan Andre masuk ke dalam, tapi Andre menolak, dia lebih suka duduk di luar.
“ ada apa dre ?” Tanya Zupri seraya menyuguhkan teh hangat kepada Andre.
“ ng.. begini “ Andre akhirnya bercerita tentang kebenaran yang telah terjadi di kantin, kebenarannya tentang perempuan yang bernama Aisyah itu, benar, Andre menyukainya, tapi dilihat dari manapun Aisyah bukanlah tipe perempuan yang mudah atau bahkan mau di ajak berbicara berdua-duan, bahkan pacaran seklaipun. Dengan menggali informasi dari Zupri yang juga anak rohis Andre ingin mengetahui bagaimana caranya tuk mendapatkan perempuan seperti itu. “ kamu pernah pacaran pri ?”.
Zupri menggeleng “ meurutku dre, pacaran itu menyusahkan, tidak halal, apa yang kita kerjakan selalu haram, memandang saja haram, apalagi menyentuh, belum lagi kalau sampai jima. lebih baikkan langsung nikah saja, memandang halal, menyetuh menggugurkan dosa, dan jima dianggap haram juga akan dianggap halal, karena hubungannya sudah halal, maka akan mendapatkan pahala apapun yang dikerjakan, kan kalau hubungannya haram, apapun yang dilakukan pasti haram, tapi kalau hubungannya halal, yang dilakukan juga halal kan”.
Andre garuk-garuk kepala, sudah kesekian kalinya dia diberi nasihat seperti ini oleh Zupri, tapi tetap saja tidak nurut. “ jadi gimana caranya ?”.
“ menurutku lebih baik kamu ikuti kebiasaanya dulu”.
“ maksudmu aku jadi anak rohis gitu, sholat ngaji dan sering ke mesjid gitu “ ungkapnya kesal dan berlalu pergi, Zupri yang ditinggal hanya tersenyum dia balaskan, dia akan tahu apa yang akan dilakukan Andre tidaklah berhasil.
Andre yang tidak kenal menyerah mencoba mendekati dengan caranya sendiri, pertama dia kirimi puisi-puisi cinta, sia-sia tanpa dibaca sedikitpun oleh Aisyah puisi itu menjadi kertas kumal yang berakhir di bak sampah. Andre kemudian mencoba mencari tahu apa yang Aisyah suka, hanya sedikit, dia berikan semua yang Aisyah suka, dibungkusnnya rapi, dikirimnya lewat teman baiknya, Aisyah menerima, ketika ditanya siapa yang memberi dia tolak. Andre mencoba tuk mencari nomor telponnya mencoba tuk menelponnya, awal diangkat, kedua tidak, langsung diputus.
…
Sudah kesekian kali Andre berusaha, tapi tetap saja Aisyah acuh tak acuh padanya, Andre akhirnya menyerah, dia menurut apa yang dikatakan oleh Zupri, dan saat itu di istirahat pertama Andre langsung menuju musholla sekolah, tak tahu apa tujuannya, tak tahu mau sholat apa, yang penting ke mushola dulu, di musholla dia bertemu dengan Zupri yang sedang membaca qur’an.
Andre langsung sholat disamping Zupri, yang ada dipikirannya hanya Aisyah pasti sedang menatapnya saat ini, padahal tidak, Aisyah saat itu berada di perpustakaan. Tapi Andre terus bergelut dengan bacaan yang tak pasti, Zupri yang merasa ada sedikit kesalahan dalam sholat Andre langsung menegur Andre seusai sholat.
“ kamu tadi sholat apa dre ?”.
“ ya sholat…sholat…seperti kamu itu “.
Zupri menggeleng “ sholat kok satu rakaat, minimal itu dua dre, kalau satu itu Cuma witir, itu juga pas malam, sebagai penutup sholat”.
Andre mangguk-mangguk mafhum “ memangnya sholat itu buat apa sih, kan gitu aja “.
“ inna sholata tatanha anil fahsya iwal munkar, sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar, begitu kan, tapi faedah sholat itu sendiri banyak sekali “ Zupri menjelaskan dengan sabar dan senyuman yang mengambang dibibirnya.
Dan akhirnya Andre mengungkapkan perasaannya untuk menjadi salah satu anggota rohis, Zupri menatap Andre, Zupri sudah paham akan maksud Andre kenapa dia mau berubah total, Zupri mengiyakan, tapi dengan syarat Andre harus bersungguh-sungguh dalam menjalani dan mempelajari agama.
Andre setuju.
…
Perjuangan Andre berlanjut, setiap rapat anggota rohis dia pasit hadir, pengajian hadir, acara agama hadir, tidak pernah sekalipun absen, setiap kali rapat, Andre selalu mendekati Aisyah, Aisyah butuh pulpen langusng dia kasih, segala perhatian terus diberikan Andre. Kemana Aisyah pergi, Andre selalu siap mengantar, tugasnya Aisyah dibantunya, walau berkali-kali Aisyah menolak, tapi Andre tidak. Dan ketika suatu sore seusai acara pengajian yang tersisa hanya Andre dan Aisyah yang sedang membersihkan mesjid, padahal itu adalah tugasnya Aisyah dan mirna, tapi mirna tidak hadir, karena sudah direncanakan olah Andre agar dia bisa berdua dengan Aisyah, dengan tulus dia membantu Aisyah membersihkan mesjid.
“ makasih ya bantuannya “ Aisyah mulai berkata lembut.
Andre cengengesan, dia berbicara dengan Aisyah, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, tapi agak ragu-ragu. “ tapi jangan diketawain ya “
Aisyah mengengguk
“ ajari aku ngaji dong “ Andre tertunduk. Sedang Aisyah berusaha mati-matian menahan tawanya. Mendengar seorang anak SMA belum bisa mengaji. Tapi Aisyah setuju.
Tak lama perjuangan Andre hampir membuahkan hasil, Aisyah kini mulai dekat dengan dirinya, semua pengorbanannya tidak sia-sia, bahkan Aisyah kini mau diajak bicara berdua-dua saja, asal di daerah mesjid, Andre setuju, apa sih yang tidak buat cinta. Dan fakta memang terbukti, walau perempuan itu membenci sang lelaki, tapi dengan jalur yang lama, pengorbanan yang tak kenal balas, dan perhatian yang tulus, pasti perasaan perempuan itu akhirnya luluh, kebanyakan perempuan tidak mencari fisik, tidak mencari kesempurnaan wajah, tidak juga kepintaran otak, yang mereka cari hanyalah kesetiaan, karena kepintaran kadang membuat sang perempuan itu tertipu oleh cintanya.
“ sudah tobat ni teman gue “ Boby terkekeh, setengah mengejek.
“ pasti gara-gara cinta “ tambah Rendi, teman Andre yang lain.
Andre hanya diam menanggapi celotehan temannya yang dia anggap akan melihat hasilnya, hasil yang selama ini mustahil didapat. Wajah angkuhnya yang sudah lama tersimpan kini mulai nampak kembali.
…
Hari ini akan Andre sampaikan niat baiknya itu untuk menjadikan Aisyah pacarnya, dia sudah yakin seratus persen, Aisyah sudah mau diajak makan malam bersama, dan Andre akan menjemputnya malam ini, sebelum itu dia mampir sebentar ke rumahnya Zupri dan berpaspasan ketika Zupri hendak pergi ke mesjid.
“ thankyu ya bro, kalau ngga ada lo, gue ngga bakal jadian ama Aisyah “.
“ iya, tapi ini kan dekat magrib, ngga sholat dulu ?”.
“ ah nanti aja, rumah Aisyahnya jauh, dah dulu ya bro” Andre langung melesat meninggalkan Zupri, Zupri diam menggeleng kepala, azan magrib telah terdengar, perasaan buruk menggerayuti perasaan Zupri.
Andre tiba di rumah Aisyah langsung disambut tatapan tajam oleh ayahnya Aisyah, Ustadz Subki. Andre seraya langsung mencium tangan ayahnya Aisyah.
“ malam om, Aisyahnya ada ?”.
“ kamu siapanya Aisyah ?”
“ saya pacarnya om “ sebuah kalimat yang tidak boleh di dengar oleh sang ustadz.
“ plakk” cap lima jari kini berbekas di pipi Andre, ayahnya Aisyah marah bukan main, mendengar kata pacara saja haram baginya, apalagi anaknya mau di ajak pacaran, dengan tidak hormat, Andre di usir dari rumah Aisyah, dari balik jendela kamarnya Aisyah menatap sedih dan menyesal kenapa dia harus terlena oleh cinta. Dia menangis keras di kamarnya, dan untuk kesekian kalinya perempuan tersakiti oleh cinta, walau tak sampai, tapi cinta itu sudah menetap di hati. dan akan terus di hati, karena luka yang ditorehkan tidak bisa disembuhkan dengan mudah.
Alhamdulillah selesai…
Tanggal 09-09-2010…
Asap mengepul keluar dari mulut Andre, sebuah rokok baru menyala, api membakar perlahan cengkeh yang berisi sebuah kehancuran bagi setiap organ yang dimasukinya. Malam ini kembali Andre memutuskan hubungannya dengan salah seorang pacarnya, entah yang keberapa, sudah tak terhitung jumlah perempuan yang sakit hati gara-gara dirinya, yang sendirinya suka sekali memainkan perempuan. Dengan tenangnya dia menghidupkan mobilnya, dan meninggalkan seorang perempuan yang sudah dia putuskan hubungnnya itu di pinggir jalan.
“ BRENGSEK KAU DRE “ bentak perempuan itu dengan linangan air mata, kata-kata kasar terus keluar dari mulutnya, sedangkan sikap dari Andre Cuma acuh tak acuh melambai pergi.
Begitulah cinta, walau pertama sang lelaki yang berusaha mendapatkan hati sang perempuan, berbagai cara dia lakukan, segalanya dia berikan, apapun dia lakukan hanya tuk mendapatkan hati gadis pujaanya, walau sang gadis tak suka, bahkan benci bisa menjadi sayang yang tak terungkap, tapi fakta telah banyak bicara, semakin gadis itu mencintai sang lelaki, semakin lelaki itu berkurang rasa sayangnya. Dan kebanyakan dari akhir percintaan yang tidak suci ini selalu berakhir dengan tangis dan air mata perempuan, karena perempuan berpikir menggunakan perasaan, sedangkan lelaki menggunakan logika yang bisa bosan dengan hal yang sudah terlalu lama dia miliki.
…
“ kau putusi lagi si Siska dre ?” Tanya Boby, salah satu temannya Andre.
Andre mengangguk santai sambil menghisap coca colanya.
“ dasar kau ini, kapan kau berhenti memainkan perempuan ?” Boby mulai menghisap minuman pesanannya.
Andre menoleh “ sampai aku menemukan seseorang yang pas dengan cinta sejatiku “.
“ kalau itu mustahil kawan ?” Zupri tiba-tiba datang dan langsung duduk berhadapan dengan Andre” karena cinta sejati itu tidak ada, dan semua teori sudah menyatakan cinta sejati itu adanya setelah menikah” Zupri teman Andre yang sering dipanggil ustadz, karena masih ada hubungan keluarga maka Andre juga berteman dengannya, kalau tidak ya tidak mungkin Andre yang badung bisa berteman dengan Zupri yang alim.
Andre menatap Zupri, tapi tidak menjawab, Boby berkali-kali menyenggol lengan Andre tuk menjauh, tapi Andre tetap tidak bergeming, Zupri menatap Andre heran, kemudian dia mengikuti arah kemana mata Andre saat ini. Zupri mengangguk mafhum, diisratkannya pada Boby, Boby menengok dan manggut-manggut mafhum. Ternyata pandangan Andre saat ini sedang tertuju pada Aisyah, yang sedang berjalan ke kantin.
“ mangsa baru nih “ goda Boby, dan saat itu baru Andre tersadar.
“ ah ngga, apaan sih lu bob “ Andre tidak mengakui.
“ kalau dia bukan seperti perempuan yang biasa jatuh hati padamu dre, dia anggota rohis, anaknya ustadz subky” tambah Zupri.
Andre masih tidak mengakui apa yang telah dia alami, dengan cepat dia menghisap minumannya dan beranjak pergi meninggalkan Zupri. Di kantin.
…
Tak lama setelah pulang sekolah, Andre datang bertamu ke rumah Zupri, Zupri yang baru saja pulang dari mesjid seusai ashar menerma teman sekaligus kerabar jauhnya itu. Dengan sopan Zupri mempersilahkan Andre masuk ke dalam, tapi Andre menolak, dia lebih suka duduk di luar.
“ ada apa dre ?” Tanya Zupri seraya menyuguhkan teh hangat kepada Andre.
“ ng.. begini “ Andre akhirnya bercerita tentang kebenaran yang telah terjadi di kantin, kebenarannya tentang perempuan yang bernama Aisyah itu, benar, Andre menyukainya, tapi dilihat dari manapun Aisyah bukanlah tipe perempuan yang mudah atau bahkan mau di ajak berbicara berdua-duan, bahkan pacaran seklaipun. Dengan menggali informasi dari Zupri yang juga anak rohis Andre ingin mengetahui bagaimana caranya tuk mendapatkan perempuan seperti itu. “ kamu pernah pacaran pri ?”.
Zupri menggeleng “ meurutku dre, pacaran itu menyusahkan, tidak halal, apa yang kita kerjakan selalu haram, memandang saja haram, apalagi menyentuh, belum lagi kalau sampai jima. lebih baikkan langsung nikah saja, memandang halal, menyetuh menggugurkan dosa, dan jima dianggap haram juga akan dianggap halal, karena hubungannya sudah halal, maka akan mendapatkan pahala apapun yang dikerjakan, kan kalau hubungannya haram, apapun yang dilakukan pasti haram, tapi kalau hubungannya halal, yang dilakukan juga halal kan”.
Andre garuk-garuk kepala, sudah kesekian kalinya dia diberi nasihat seperti ini oleh Zupri, tapi tetap saja tidak nurut. “ jadi gimana caranya ?”.
“ menurutku lebih baik kamu ikuti kebiasaanya dulu”.
“ maksudmu aku jadi anak rohis gitu, sholat ngaji dan sering ke mesjid gitu “ ungkapnya kesal dan berlalu pergi, Zupri yang ditinggal hanya tersenyum dia balaskan, dia akan tahu apa yang akan dilakukan Andre tidaklah berhasil.
Andre yang tidak kenal menyerah mencoba mendekati dengan caranya sendiri, pertama dia kirimi puisi-puisi cinta, sia-sia tanpa dibaca sedikitpun oleh Aisyah puisi itu menjadi kertas kumal yang berakhir di bak sampah. Andre kemudian mencoba mencari tahu apa yang Aisyah suka, hanya sedikit, dia berikan semua yang Aisyah suka, dibungkusnnya rapi, dikirimnya lewat teman baiknya, Aisyah menerima, ketika ditanya siapa yang memberi dia tolak. Andre mencoba tuk mencari nomor telponnya mencoba tuk menelponnya, awal diangkat, kedua tidak, langsung diputus.
…
Sudah kesekian kali Andre berusaha, tapi tetap saja Aisyah acuh tak acuh padanya, Andre akhirnya menyerah, dia menurut apa yang dikatakan oleh Zupri, dan saat itu di istirahat pertama Andre langsung menuju musholla sekolah, tak tahu apa tujuannya, tak tahu mau sholat apa, yang penting ke mushola dulu, di musholla dia bertemu dengan Zupri yang sedang membaca qur’an.
Andre langsung sholat disamping Zupri, yang ada dipikirannya hanya Aisyah pasti sedang menatapnya saat ini, padahal tidak, Aisyah saat itu berada di perpustakaan. Tapi Andre terus bergelut dengan bacaan yang tak pasti, Zupri yang merasa ada sedikit kesalahan dalam sholat Andre langsung menegur Andre seusai sholat.
“ kamu tadi sholat apa dre ?”.
“ ya sholat…sholat…seperti kamu itu “.
Zupri menggeleng “ sholat kok satu rakaat, minimal itu dua dre, kalau satu itu Cuma witir, itu juga pas malam, sebagai penutup sholat”.
Andre mangguk-mangguk mafhum “ memangnya sholat itu buat apa sih, kan gitu aja “.
“ inna sholata tatanha anil fahsya iwal munkar, sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar, begitu kan, tapi faedah sholat itu sendiri banyak sekali “ Zupri menjelaskan dengan sabar dan senyuman yang mengambang dibibirnya.
Dan akhirnya Andre mengungkapkan perasaannya untuk menjadi salah satu anggota rohis, Zupri menatap Andre, Zupri sudah paham akan maksud Andre kenapa dia mau berubah total, Zupri mengiyakan, tapi dengan syarat Andre harus bersungguh-sungguh dalam menjalani dan mempelajari agama.
Andre setuju.
…
Perjuangan Andre berlanjut, setiap rapat anggota rohis dia pasit hadir, pengajian hadir, acara agama hadir, tidak pernah sekalipun absen, setiap kali rapat, Andre selalu mendekati Aisyah, Aisyah butuh pulpen langusng dia kasih, segala perhatian terus diberikan Andre. Kemana Aisyah pergi, Andre selalu siap mengantar, tugasnya Aisyah dibantunya, walau berkali-kali Aisyah menolak, tapi Andre tidak. Dan ketika suatu sore seusai acara pengajian yang tersisa hanya Andre dan Aisyah yang sedang membersihkan mesjid, padahal itu adalah tugasnya Aisyah dan mirna, tapi mirna tidak hadir, karena sudah direncanakan olah Andre agar dia bisa berdua dengan Aisyah, dengan tulus dia membantu Aisyah membersihkan mesjid.
“ makasih ya bantuannya “ Aisyah mulai berkata lembut.
Andre cengengesan, dia berbicara dengan Aisyah, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, tapi agak ragu-ragu. “ tapi jangan diketawain ya “
Aisyah mengengguk
“ ajari aku ngaji dong “ Andre tertunduk. Sedang Aisyah berusaha mati-matian menahan tawanya. Mendengar seorang anak SMA belum bisa mengaji. Tapi Aisyah setuju.
Tak lama perjuangan Andre hampir membuahkan hasil, Aisyah kini mulai dekat dengan dirinya, semua pengorbanannya tidak sia-sia, bahkan Aisyah kini mau diajak bicara berdua-dua saja, asal di daerah mesjid, Andre setuju, apa sih yang tidak buat cinta. Dan fakta memang terbukti, walau perempuan itu membenci sang lelaki, tapi dengan jalur yang lama, pengorbanan yang tak kenal balas, dan perhatian yang tulus, pasti perasaan perempuan itu akhirnya luluh, kebanyakan perempuan tidak mencari fisik, tidak mencari kesempurnaan wajah, tidak juga kepintaran otak, yang mereka cari hanyalah kesetiaan, karena kepintaran kadang membuat sang perempuan itu tertipu oleh cintanya.
“ sudah tobat ni teman gue “ Boby terkekeh, setengah mengejek.
“ pasti gara-gara cinta “ tambah Rendi, teman Andre yang lain.
Andre hanya diam menanggapi celotehan temannya yang dia anggap akan melihat hasilnya, hasil yang selama ini mustahil didapat. Wajah angkuhnya yang sudah lama tersimpan kini mulai nampak kembali.
…
Hari ini akan Andre sampaikan niat baiknya itu untuk menjadikan Aisyah pacarnya, dia sudah yakin seratus persen, Aisyah sudah mau diajak makan malam bersama, dan Andre akan menjemputnya malam ini, sebelum itu dia mampir sebentar ke rumahnya Zupri dan berpaspasan ketika Zupri hendak pergi ke mesjid.
“ thankyu ya bro, kalau ngga ada lo, gue ngga bakal jadian ama Aisyah “.
“ iya, tapi ini kan dekat magrib, ngga sholat dulu ?”.
“ ah nanti aja, rumah Aisyahnya jauh, dah dulu ya bro” Andre langung melesat meninggalkan Zupri, Zupri diam menggeleng kepala, azan magrib telah terdengar, perasaan buruk menggerayuti perasaan Zupri.
Andre tiba di rumah Aisyah langsung disambut tatapan tajam oleh ayahnya Aisyah, Ustadz Subki. Andre seraya langsung mencium tangan ayahnya Aisyah.
“ malam om, Aisyahnya ada ?”.
“ kamu siapanya Aisyah ?”
“ saya pacarnya om “ sebuah kalimat yang tidak boleh di dengar oleh sang ustadz.
“ plakk” cap lima jari kini berbekas di pipi Andre, ayahnya Aisyah marah bukan main, mendengar kata pacara saja haram baginya, apalagi anaknya mau di ajak pacaran, dengan tidak hormat, Andre di usir dari rumah Aisyah, dari balik jendela kamarnya Aisyah menatap sedih dan menyesal kenapa dia harus terlena oleh cinta. Dia menangis keras di kamarnya, dan untuk kesekian kalinya perempuan tersakiti oleh cinta, walau tak sampai, tapi cinta itu sudah menetap di hati. dan akan terus di hati, karena luka yang ditorehkan tidak bisa disembuhkan dengan mudah.
Alhamdulillah selesai…
Tanggal 09-09-2010…
hati yang tertolak
Hati yang tertolak …
Asap mengepul keluar dari mulut Andre, sebuah rokok baru menyala, api membakar perlahan cengkeh yang berisi sebuah kehancuran bagi setiap organ yang dimasukinya. Malam ini kembali Andre memutuskan hubungannya dengan salah seorang pacarnya, entah yang keberapa, sudah tak terhitung jumlah perempuan yang sakit hati gara-gara dirinya, yang sendirinya suka sekali memainkan perempuan. Dengan tenangnya dia menghidupkan mobilnya, dan meninggalkan seorang perempuan yang sudah dia putuskan hubungnnya itu di pinggir jalan.
“ BRENGSEK KAU DRE “ bentak perempuan itu dengan linangan air mata, kata-kata kasar terus keluar dari mulutnya, sedangkan sikap dari Andre Cuma acuh tak acuh melambai pergi.
Begitulah cinta, walau pertama sang lelaki yang berusaha mendapatkan hati sang perempuan, berbagai cara dia lakukan, segalanya dia berikan, apapun dia lakukan hanya tuk mendapatkan hati gadis pujaanya, walau sang gadis tak suka, bahkan benci bisa menjadi sayang yang tak terungkap, tapi fakta telah banyak bicara, semakin gadis itu mencintai sang lelaki, semakin lelaki itu berkurang rasa sayangnya. Dan kebanyakan dari akhir percintaan yang tidak suci ini selalu berakhir dengan tangis dan air mata perempuan, karena perempuan berpikir menggunakan perasaan, sedangkan lelaki menggunakan logika yang bisa bosan dengan hal yang sudah terlalu lama dia miliki.
…
“ kau putusi lagi si Siska dre ?” Tanya Boby, salah satu temannya Andre.
Andre mengangguk santai sambil menghisap coca colanya.
“ dasar kau ini, kapan kau berhenti memainkan perempuan ?” Boby mulai menghisap minuman pesanannya.
Andre menoleh “ sampai aku menemukan seseorang yang pas dengan cinta sejatiku “.
“ kalau itu mustahil kawan ?” Zupri tiba-tiba datang dan langsung duduk berhadapan dengan Andre” karena cinta sejati itu tidak ada, dan semua teori sudah menyatakan cinta sejati itu adanya setelah menikah” Zupri teman Andre yang sering dipanggil ustadz, karena masih ada hubungan keluarga maka Andre juga berteman dengannya, kalau tidak ya tidak mungkin Andre yang badung bisa berteman dengan Zupri yang alim.
Andre menatap Zupri, tapi tidak menjawab, Boby berkali-kali menyenggol lengan Andre tuk menjauh, tapi Andre tetap tidak bergeming, Zupri menatap Andre heran, kemudian dia mengikuti arah kemana mata Andre saat ini. Zupri mengangguk mafhum, diisratkannya pada Boby, Boby menengok dan manggut-manggut mafhum. Ternyata pandangan Andre saat ini sedang tertuju pada Aisyah, yang sedang berjalan ke kantin.
“ mangsa baru nih “ goda Boby, dan saat itu baru Andre tersadar.
“ ah ngga, apaan sih lu bob “ Andre tidak mengakui.
“ kalau dia bukan seperti perempuan yang biasa jatuh hati padamu dre, dia anggota rohis, anaknya ustadz subky” tambah Zupri.
Andre masih tidak mengakui apa yang telah dia alami, dengan cepat dia menghisap minumannya dan beranjak pergi meninggalkan Zupri. Di kantin.
…
Tak lama setelah pulang sekolah, Andre datang bertamu ke rumah Zupri, Zupri yang baru saja pulang dari mesjid seusai ashar menerma teman sekaligus kerabar jauhnya itu. Dengan sopan Zupri mempersilahkan Andre masuk ke dalam, tapi Andre menolak, dia lebih suka duduk di luar.
“ ada apa dre ?” Tanya Zupri seraya menyuguhkan teh hangat kepada Andre.
“ ng.. begini “ Andre akhirnya bercerita tentang kebenaran yang telah terjadi di kantin, kebenarannya tentang perempuan yang bernama Aisyah itu, benar, Andre menyukainya, tapi dilihat dari manapun Aisyah bukanlah tipe perempuan yang mudah atau bahkan mau di ajak berbicara berdua-duan, bahkan pacaran seklaipun. Dengan menggali informasi dari Zupri yang juga anak rohis Andre ingin mengetahui bagaimana caranya tuk mendapatkan perempuan seperti itu. “ kamu pernah pacaran pri ?”.
Zupri menggeleng “ meurutku dre, pacaran itu menyusahkan, tidak halal, apa yang kita kerjakan selalu haram, memandang saja haram, apalagi menyentuh, belum lagi kalau sampai jima. lebih baikkan langsung nikah saja, memandang halal, menyetuh menggugurkan dosa, dan jima dianggap haram juga akan dianggap halal, karena hubungannya sudah halal, maka akan mendapatkan pahala apapun yang dikerjakan, kan kalau hubungannya haram, apapun yang dilakukan pasti haram, tapi kalau hubungannya halal, yang dilakukan juga halal kan”.
Andre garuk-garuk kepala, sudah kesekian kalinya dia diberi nasihat seperti ini oleh Zupri, tapi tetap saja tidak nurut. “ jadi gimana caranya ?”.
“ menurutku lebih baik kamu ikuti kebiasaanya dulu”.
“ maksudmu aku jadi anak rohis gitu, sholat ngaji dan sering ke mesjid gitu “ ungkapnya kesal dan berlalu pergi, Zupri yang ditinggal hanya tersenyum dia balaskan, dia akan tahu apa yang akan dilakukan Andre tidaklah berhasil.
Andre yang tidak kenal menyerah mencoba mendekati dengan caranya sendiri, pertama dia kirimi puisi-puisi cinta, sia-sia tanpa dibaca sedikitpun oleh Aisyah puisi itu menjadi kertas kumal yang berakhir di bak sampah. Andre kemudian mencoba mencari tahu apa yang Aisyah suka, hanya sedikit, dia berikan semua yang Aisyah suka, dibungkusnnya rapi, dikirimnya lewat teman baiknya, Aisyah menerima, ketika ditanya siapa yang memberi dia tolak. Andre mencoba tuk mencari nomor telponnya mencoba tuk menelponnya, awal diangkat, kedua tidak, langsung diputus.
…
Sudah kesekian kali Andre berusaha, tapi tetap saja Aisyah acuh tak acuh padanya, Andre akhirnya menyerah, dia menurut apa yang dikatakan oleh Zupri, dan saat itu di istirahat pertama Andre langsung menuju musholla sekolah, tak tahu apa tujuannya, tak tahu mau sholat apa, yang penting ke mushola dulu, di musholla dia bertemu dengan Zupri yang sedang membaca qur’an.
Andre langsung sholat disamping Zupri, yang ada dipikirannya hanya Aisyah pasti sedang menatapnya saat ini, padahal tidak, Aisyah saat itu berada di perpustakaan. Tapi Andre terus bergelut dengan bacaan yang tak pasti, Zupri yang merasa ada sedikit kesalahan dalam sholat Andre langsung menegur Andre seusai sholat.
“ kamu tadi sholat apa dre ?”.
“ ya sholat…sholat…seperti kamu itu “.
Zupri menggeleng “ sholat kok satu rakaat, minimal itu dua dre, kalau satu itu Cuma witir, itu juga pas malam, sebagai penutup sholat”.
Andre mangguk-mangguk mafhum “ memangnya sholat itu buat apa sih, kan gitu aja “.
“ inna sholata tatanha anil fahsya iwal munkar, sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar, begitu kan, tapi faedah sholat itu sendiri banyak sekali “ Zupri menjelaskan dengan sabar dan senyuman yang mengambang dibibirnya.
Dan akhirnya Andre mengungkapkan perasaannya untuk menjadi salah satu anggota rohis, Zupri menatap Andre, Zupri sudah paham akan maksud Andre kenapa dia mau berubah total, Zupri mengiyakan, tapi dengan syarat Andre harus bersungguh-sungguh dalam menjalani dan mempelajari agama.
Andre setuju.
…
Perjuangan Andre berlanjut, setiap rapat anggota rohis dia pasit hadir, pengajian hadir, acara agama hadir, tidak pernah sekalipun absen, setiap kali rapat, Andre selalu mendekati Aisyah, Aisyah butuh pulpen langusng dia kasih, segala perhatian terus diberikan Andre. Kemana Aisyah pergi, Andre selalu siap mengantar, tugasnya Aisyah dibantunya, walau berkali-kali Aisyah menolak, tapi Andre tidak. Dan ketika suatu sore seusai acara pengajian yang tersisa hanya Andre dan Aisyah yang sedang membersihkan mesjid, padahal itu adalah tugasnya Aisyah dan mirna, tapi mirna tidak hadir, karena sudah direncanakan olah Andre agar dia bisa berdua dengan Aisyah, dengan tulus dia membantu Aisyah membersihkan mesjid.
“ makasih ya bantuannya “ Aisyah mulai berkata lembut.
Andre cengengesan, dia berbicara dengan Aisyah, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, tapi agak ragu-ragu. “ tapi jangan diketawain ya “
Aisyah mengengguk
“ ajari aku ngaji dong “ Andre tertunduk. Sedang Aisyah berusaha mati-matian menahan tawanya. Mendengar seorang anak SMA belum bisa mengaji. Tapi Aisyah setuju.
Tak lama perjuangan Andre hampir membuahkan hasil, Aisyah kini mulai dekat dengan dirinya, semua pengorbanannya tidak sia-sia, bahkan Aisyah kini mau diajak bicara berdua-dua saja, asal di daerah mesjid, Andre setuju, apa sih yang tidak buat cinta. Dan fakta memang terbukti, walau perempuan itu membenci sang lelaki, tapi dengan jalur yang lama, pengorbanan yang tak kenal balas, dan perhatian yang tulus, pasti perasaan perempuan itu akhirnya luluh, kebanyakan perempuan tidak mencari fisik, tidak mencari kesempurnaan wajah, tidak juga kepintaran otak, yang mereka cari hanyalah kesetiaan, karena kepintaran kadang membuat sang perempuan itu tertipu oleh cintanya.
“ sudah tobat ni teman gue “ Boby terkekeh, setengah mengejek.
“ pasti gara-gara cinta “ tambah Rendi, teman Andre yang lain.
Andre hanya diam menanggapi celotehan temannya yang dia anggap akan melihat hasilnya, hasil yang selama ini mustahil didapat. Wajah angkuhnya yang sudah lama tersimpan kini mulai nampak kembali.
…
Hari ini akan Andre sampaikan niat baiknya itu untuk menjadikan Aisyah pacarnya, dia sudah yakin seratus persen, Aisyah sudah mau diajak makan malam bersama, dan Andre akan menjemputnya malam ini, sebelum itu dia mampir sebentar ke rumahnya Zupri dan berpaspasan ketika Zupri hendak pergi ke mesjid.
“ thankyu ya bro, kalau ngga ada lo, gue ngga bakal jadian ama Aisyah “.
“ iya, tapi ini kan dekat magrib, ngga sholat dulu ?”.
“ ah nanti aja, rumah Aisyahnya jauh, dah dulu ya bro” Andre langung melesat meninggalkan Zupri, Zupri diam menggeleng kepala, azan magrib telah terdengar, perasaan buruk menggerayuti perasaan Zupri.
Andre tiba di rumah Aisyah langsung disambut tatapan tajam oleh ayahnya Aisyah, Ustadz Subki. Andre seraya langsung mencium tangan ayahnya Aisyah.
“ malam om, Aisyahnya ada ?”.
“ kamu siapanya Aisyah ?”
“ saya pacarnya om “ sebuah kalimat yang tidak boleh di dengar oleh sang ustadz.
“ plakk” cap lima jari kini berbekas di pipi Andre, ayahnya Aisyah marah bukan main, mendengar kata pacara saja haram baginya, apalagi anaknya mau di ajak pacaran, dengan tidak hormat, Andre di usir dari rumah Aisyah, dari balik jendela kamarnya Aisyah menatap sedih dan menyesal kenapa dia harus terlena oleh cinta. Dia menangis keras di kamarnya, dan untuk kesekian kalinya perempuan tersakiti oleh cinta, walau tak sampai, tapi cinta itu sudah menetap di hati. dan akan terus di hati, karena luka yang ditorehkan tidak bisa disembuhkan dengan mudah.
Alhamdulillah selesai…
Tanggal 09-09-2010…
Asap mengepul keluar dari mulut Andre, sebuah rokok baru menyala, api membakar perlahan cengkeh yang berisi sebuah kehancuran bagi setiap organ yang dimasukinya. Malam ini kembali Andre memutuskan hubungannya dengan salah seorang pacarnya, entah yang keberapa, sudah tak terhitung jumlah perempuan yang sakit hati gara-gara dirinya, yang sendirinya suka sekali memainkan perempuan. Dengan tenangnya dia menghidupkan mobilnya, dan meninggalkan seorang perempuan yang sudah dia putuskan hubungnnya itu di pinggir jalan.
“ BRENGSEK KAU DRE “ bentak perempuan itu dengan linangan air mata, kata-kata kasar terus keluar dari mulutnya, sedangkan sikap dari Andre Cuma acuh tak acuh melambai pergi.
Begitulah cinta, walau pertama sang lelaki yang berusaha mendapatkan hati sang perempuan, berbagai cara dia lakukan, segalanya dia berikan, apapun dia lakukan hanya tuk mendapatkan hati gadis pujaanya, walau sang gadis tak suka, bahkan benci bisa menjadi sayang yang tak terungkap, tapi fakta telah banyak bicara, semakin gadis itu mencintai sang lelaki, semakin lelaki itu berkurang rasa sayangnya. Dan kebanyakan dari akhir percintaan yang tidak suci ini selalu berakhir dengan tangis dan air mata perempuan, karena perempuan berpikir menggunakan perasaan, sedangkan lelaki menggunakan logika yang bisa bosan dengan hal yang sudah terlalu lama dia miliki.
…
“ kau putusi lagi si Siska dre ?” Tanya Boby, salah satu temannya Andre.
Andre mengangguk santai sambil menghisap coca colanya.
“ dasar kau ini, kapan kau berhenti memainkan perempuan ?” Boby mulai menghisap minuman pesanannya.
Andre menoleh “ sampai aku menemukan seseorang yang pas dengan cinta sejatiku “.
“ kalau itu mustahil kawan ?” Zupri tiba-tiba datang dan langsung duduk berhadapan dengan Andre” karena cinta sejati itu tidak ada, dan semua teori sudah menyatakan cinta sejati itu adanya setelah menikah” Zupri teman Andre yang sering dipanggil ustadz, karena masih ada hubungan keluarga maka Andre juga berteman dengannya, kalau tidak ya tidak mungkin Andre yang badung bisa berteman dengan Zupri yang alim.
Andre menatap Zupri, tapi tidak menjawab, Boby berkali-kali menyenggol lengan Andre tuk menjauh, tapi Andre tetap tidak bergeming, Zupri menatap Andre heran, kemudian dia mengikuti arah kemana mata Andre saat ini. Zupri mengangguk mafhum, diisratkannya pada Boby, Boby menengok dan manggut-manggut mafhum. Ternyata pandangan Andre saat ini sedang tertuju pada Aisyah, yang sedang berjalan ke kantin.
“ mangsa baru nih “ goda Boby, dan saat itu baru Andre tersadar.
“ ah ngga, apaan sih lu bob “ Andre tidak mengakui.
“ kalau dia bukan seperti perempuan yang biasa jatuh hati padamu dre, dia anggota rohis, anaknya ustadz subky” tambah Zupri.
Andre masih tidak mengakui apa yang telah dia alami, dengan cepat dia menghisap minumannya dan beranjak pergi meninggalkan Zupri. Di kantin.
…
Tak lama setelah pulang sekolah, Andre datang bertamu ke rumah Zupri, Zupri yang baru saja pulang dari mesjid seusai ashar menerma teman sekaligus kerabar jauhnya itu. Dengan sopan Zupri mempersilahkan Andre masuk ke dalam, tapi Andre menolak, dia lebih suka duduk di luar.
“ ada apa dre ?” Tanya Zupri seraya menyuguhkan teh hangat kepada Andre.
“ ng.. begini “ Andre akhirnya bercerita tentang kebenaran yang telah terjadi di kantin, kebenarannya tentang perempuan yang bernama Aisyah itu, benar, Andre menyukainya, tapi dilihat dari manapun Aisyah bukanlah tipe perempuan yang mudah atau bahkan mau di ajak berbicara berdua-duan, bahkan pacaran seklaipun. Dengan menggali informasi dari Zupri yang juga anak rohis Andre ingin mengetahui bagaimana caranya tuk mendapatkan perempuan seperti itu. “ kamu pernah pacaran pri ?”.
Zupri menggeleng “ meurutku dre, pacaran itu menyusahkan, tidak halal, apa yang kita kerjakan selalu haram, memandang saja haram, apalagi menyentuh, belum lagi kalau sampai jima. lebih baikkan langsung nikah saja, memandang halal, menyetuh menggugurkan dosa, dan jima dianggap haram juga akan dianggap halal, karena hubungannya sudah halal, maka akan mendapatkan pahala apapun yang dikerjakan, kan kalau hubungannya haram, apapun yang dilakukan pasti haram, tapi kalau hubungannya halal, yang dilakukan juga halal kan”.
Andre garuk-garuk kepala, sudah kesekian kalinya dia diberi nasihat seperti ini oleh Zupri, tapi tetap saja tidak nurut. “ jadi gimana caranya ?”.
“ menurutku lebih baik kamu ikuti kebiasaanya dulu”.
“ maksudmu aku jadi anak rohis gitu, sholat ngaji dan sering ke mesjid gitu “ ungkapnya kesal dan berlalu pergi, Zupri yang ditinggal hanya tersenyum dia balaskan, dia akan tahu apa yang akan dilakukan Andre tidaklah berhasil.
Andre yang tidak kenal menyerah mencoba mendekati dengan caranya sendiri, pertama dia kirimi puisi-puisi cinta, sia-sia tanpa dibaca sedikitpun oleh Aisyah puisi itu menjadi kertas kumal yang berakhir di bak sampah. Andre kemudian mencoba mencari tahu apa yang Aisyah suka, hanya sedikit, dia berikan semua yang Aisyah suka, dibungkusnnya rapi, dikirimnya lewat teman baiknya, Aisyah menerima, ketika ditanya siapa yang memberi dia tolak. Andre mencoba tuk mencari nomor telponnya mencoba tuk menelponnya, awal diangkat, kedua tidak, langsung diputus.
…
Sudah kesekian kali Andre berusaha, tapi tetap saja Aisyah acuh tak acuh padanya, Andre akhirnya menyerah, dia menurut apa yang dikatakan oleh Zupri, dan saat itu di istirahat pertama Andre langsung menuju musholla sekolah, tak tahu apa tujuannya, tak tahu mau sholat apa, yang penting ke mushola dulu, di musholla dia bertemu dengan Zupri yang sedang membaca qur’an.
Andre langsung sholat disamping Zupri, yang ada dipikirannya hanya Aisyah pasti sedang menatapnya saat ini, padahal tidak, Aisyah saat itu berada di perpustakaan. Tapi Andre terus bergelut dengan bacaan yang tak pasti, Zupri yang merasa ada sedikit kesalahan dalam sholat Andre langsung menegur Andre seusai sholat.
“ kamu tadi sholat apa dre ?”.
“ ya sholat…sholat…seperti kamu itu “.
Zupri menggeleng “ sholat kok satu rakaat, minimal itu dua dre, kalau satu itu Cuma witir, itu juga pas malam, sebagai penutup sholat”.
Andre mangguk-mangguk mafhum “ memangnya sholat itu buat apa sih, kan gitu aja “.
“ inna sholata tatanha anil fahsya iwal munkar, sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar, begitu kan, tapi faedah sholat itu sendiri banyak sekali “ Zupri menjelaskan dengan sabar dan senyuman yang mengambang dibibirnya.
Dan akhirnya Andre mengungkapkan perasaannya untuk menjadi salah satu anggota rohis, Zupri menatap Andre, Zupri sudah paham akan maksud Andre kenapa dia mau berubah total, Zupri mengiyakan, tapi dengan syarat Andre harus bersungguh-sungguh dalam menjalani dan mempelajari agama.
Andre setuju.
…
Perjuangan Andre berlanjut, setiap rapat anggota rohis dia pasit hadir, pengajian hadir, acara agama hadir, tidak pernah sekalipun absen, setiap kali rapat, Andre selalu mendekati Aisyah, Aisyah butuh pulpen langusng dia kasih, segala perhatian terus diberikan Andre. Kemana Aisyah pergi, Andre selalu siap mengantar, tugasnya Aisyah dibantunya, walau berkali-kali Aisyah menolak, tapi Andre tidak. Dan ketika suatu sore seusai acara pengajian yang tersisa hanya Andre dan Aisyah yang sedang membersihkan mesjid, padahal itu adalah tugasnya Aisyah dan mirna, tapi mirna tidak hadir, karena sudah direncanakan olah Andre agar dia bisa berdua dengan Aisyah, dengan tulus dia membantu Aisyah membersihkan mesjid.
“ makasih ya bantuannya “ Aisyah mulai berkata lembut.
Andre cengengesan, dia berbicara dengan Aisyah, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, tapi agak ragu-ragu. “ tapi jangan diketawain ya “
Aisyah mengengguk
“ ajari aku ngaji dong “ Andre tertunduk. Sedang Aisyah berusaha mati-matian menahan tawanya. Mendengar seorang anak SMA belum bisa mengaji. Tapi Aisyah setuju.
Tak lama perjuangan Andre hampir membuahkan hasil, Aisyah kini mulai dekat dengan dirinya, semua pengorbanannya tidak sia-sia, bahkan Aisyah kini mau diajak bicara berdua-dua saja, asal di daerah mesjid, Andre setuju, apa sih yang tidak buat cinta. Dan fakta memang terbukti, walau perempuan itu membenci sang lelaki, tapi dengan jalur yang lama, pengorbanan yang tak kenal balas, dan perhatian yang tulus, pasti perasaan perempuan itu akhirnya luluh, kebanyakan perempuan tidak mencari fisik, tidak mencari kesempurnaan wajah, tidak juga kepintaran otak, yang mereka cari hanyalah kesetiaan, karena kepintaran kadang membuat sang perempuan itu tertipu oleh cintanya.
“ sudah tobat ni teman gue “ Boby terkekeh, setengah mengejek.
“ pasti gara-gara cinta “ tambah Rendi, teman Andre yang lain.
Andre hanya diam menanggapi celotehan temannya yang dia anggap akan melihat hasilnya, hasil yang selama ini mustahil didapat. Wajah angkuhnya yang sudah lama tersimpan kini mulai nampak kembali.
…
Hari ini akan Andre sampaikan niat baiknya itu untuk menjadikan Aisyah pacarnya, dia sudah yakin seratus persen, Aisyah sudah mau diajak makan malam bersama, dan Andre akan menjemputnya malam ini, sebelum itu dia mampir sebentar ke rumahnya Zupri dan berpaspasan ketika Zupri hendak pergi ke mesjid.
“ thankyu ya bro, kalau ngga ada lo, gue ngga bakal jadian ama Aisyah “.
“ iya, tapi ini kan dekat magrib, ngga sholat dulu ?”.
“ ah nanti aja, rumah Aisyahnya jauh, dah dulu ya bro” Andre langung melesat meninggalkan Zupri, Zupri diam menggeleng kepala, azan magrib telah terdengar, perasaan buruk menggerayuti perasaan Zupri.
Andre tiba di rumah Aisyah langsung disambut tatapan tajam oleh ayahnya Aisyah, Ustadz Subki. Andre seraya langsung mencium tangan ayahnya Aisyah.
“ malam om, Aisyahnya ada ?”.
“ kamu siapanya Aisyah ?”
“ saya pacarnya om “ sebuah kalimat yang tidak boleh di dengar oleh sang ustadz.
“ plakk” cap lima jari kini berbekas di pipi Andre, ayahnya Aisyah marah bukan main, mendengar kata pacara saja haram baginya, apalagi anaknya mau di ajak pacaran, dengan tidak hormat, Andre di usir dari rumah Aisyah, dari balik jendela kamarnya Aisyah menatap sedih dan menyesal kenapa dia harus terlena oleh cinta. Dia menangis keras di kamarnya, dan untuk kesekian kalinya perempuan tersakiti oleh cinta, walau tak sampai, tapi cinta itu sudah menetap di hati. dan akan terus di hati, karena luka yang ditorehkan tidak bisa disembuhkan dengan mudah.
Alhamdulillah selesai…
Tanggal 09-09-2010…
surat kematian
Surat kematian…
SURAT ITU sudah dua hari terletak di meja Pak Slamet, sudah dua hari tak terbaca dan tak tersentuh sama sekali, surat itu berada di tumpukan yang berbeda dari surat-surat lainnya, dengan amplop yang berwarna merah, tanpa perangko, tanpa pengirim dan tanpa inisial yang jelas. Surat-surat lainnya pun begitu, surat rakyat atau suara rakyat, yang hanya di taruh di meja dan di buang setelah lama di atas meja tanpa di baca sedikitpun.
Di depan meja Pak Slamet bertuliskan “ untuk rakyat “ yang ternyata hasilnya “ semua milik rakyat untuk dirinya “, slogan-slogan yang sering ditemui orang di setiap meja wakil rakyat, tapi dengan kenyataan yang tak merakyat.
Hidup sekehendak perutnya, Pak Slamet memilintir-milintir kumisnya sambil memegang perutnya yang buncit, sepiring mie goreng telah habis disantapnya, sebuah minuman dingin ditenggaknya dengan cepat, habis.
Seorang pelayan memasuki ruangannya dan membereskan semua yang telah di telannya, dengan sabar dan patuh kepada bos yang dia tahu memiliki sifat bukan manusia ini. Tapi kalau tidak begini bagaimana dia akan membiayai hidupnya, apakah ini yang disebut keadilan, apakah ini diperbolehkan, semua itu kini menjadi pertanyaan yang basi di jaman yang serba sulit dan kejam ini, jangankan yang halal, yang haram saja sulit di cari.
“ eh Hasan, setelah ini bawakan saya bakwan goreng ya !” sebuah perintah langsung yang tak bisa ditolak.
Hasan mengangguk, dan beranjak pergi.
Pak Slamet kembali mengutak-atik laptopnya yang pastinya dari uang rakyat, kalau ditanya sedang apa, jawabannya sudah pasti, mengurus dokumen rakyat. Dokumen rakyat memang terlerletak persis di depan wajahnya, sebuah symbol yang berarti dia bekerja unutk rakyat, dan semua untuk rakyat.
Dalam dua hari ini, baPak Slamet sendiri kadang bingung dengan sebuah surat yang lain dari surat-surat lainnya itu, ingin segera dia buang surat itu tapi kadang ada rasa untuk tidak membuang surat itu segera, dilihatnya tumpukan surat yang sudah dua hari menggunung itu bekas dia tumpukkan, biasa, tidak ada yang aneh baginya.
Pintu terbuka, Hasan masuk membawa bakwan goreng yang dia pesan, Hasan masuk perlahan sambil menatap muka Pak Slamet, dan segera dia alihkan pandangannya dari wajah orang yang selama ini menjadi bosnya, ada perasaan kecewa dan benci ketika melihat wajah seseorang yang disebut bosnya itu, dan suka seenaknya menyuruh-nyuruhnya.
“ san, setelah ini, buang semua tumpukan surat ini “. Pak Slamet segera memakan salah satu bakwan yang bahkan belum ditaruh Hasan.
Hasan mengangguk, diambilnya sebuah kantong plastik hitam besar. Ini lah yang tidak dia suka, dan hanya dia yang tahu tentang hal ini, apa boleh buat, dia hanya bisa marah-marah sendiri ketika melakukan hal itu, menyesal, dan tidak berani melaporkan kebatilan, itulah penyesalannya, hanya menatap dengan benci yang dia bisa.
“ yang merah ini ya juga “ ucap Pak Slamet, makanan di mutlutnya terus beradu dengan gigi gerahamnya.
Hasan menurut, kembali dia ambil surat itu dan ditaruhnya di dalam kantong plastik bersama tumpukan surat lainnya.
…
SURAT ITU sudah dua hari terletak di meja Pak Slamet, sudah dua hari tak terbaca dan tak tersentuh sama sekali, surat itu berada di tumpukan yang berbeda dari surat-surat lainnya, dengan amplop yang berwarna merah, tanpa perangko, tanpa pengirim dan tanpa inisial yang jelas. Surat-surat lainnya pun begitu, surat rakyat atau suara rakyat, yang hanya di taruh di meja dan di buang setelah lama di atas meja tanpa di baca sedikitpun.
Di depan meja Pak Slamet bertuliskan “ untuk rakyat “ yang ternyata hasilnya “ semua milik rakyat untuk dirinya “, slogan-slogan yang sering ditemui orang di setiap meja wakil rakyat, tapi dengan kenyataan yang tak merakyat.
Hidup sekehendak perutnya, Pak Slamet memilintir-milintir kumisnya sambil memegang perutnya yang buncit, sepiring mie goreng telah habis disantapnya, sebuah minuman dingin ditenggaknya dengan cepat, habis.
Seorang pelayan memasuki ruangannya dan membereskan semua yang telah di telannya, dengan sabar dan patuh kepada bos yang dia tahu memiliki sifat bukan manusia ini. Tapi kalau tidak begini bagaimana dia akan membiayai hidupnya, apakah ini yang disebut keadilan, apakah ini diperbolehkan, semua itu kini menjadi pertanyaan yang basi di jaman yang serba sulit dan kejam ini, jangankan yang halal, yang haram saja sulit di cari.
“ eh Hasan, setelah ini bawakan saya bakwan goreng ya !” sebuah perintah langsung yang tak bisa ditolak.
Hasan mengangguk, dan beranjak pergi.
Pak Slamet kembali mengutak-atik laptopnya yang pastinya dari uang rakyat, kalau ditanya sedang apa, jawabannya sudah pasti, mengurus dokumen rakyat. Dokumen rakyat memang terlerletak persis di depan wajahnya, sebuah symbol yang berarti dia bekerja unutk rakyat, dan semua untuk rakyat.
Dalam dua hari ini, baPak Slamet sendiri kadang bingung dengan sebuah surat yang lain dari surat-surat lainnya itu, ingin segera dia buang surat itu tapi kadang ada rasa untuk tidak membuang surat itu segera, dilihatnya tumpukan surat yang sudah dua hari menggunung itu bekas dia tumpukkan, biasa, tidak ada yang aneh baginya.
Pintu terbuka, Hasan masuk membawa bakwan goreng yang dia pesan, Hasan masuk perlahan sambil menatap muka Pak Slamet, dan segera dia alihkan pandangannya dari wajah orang yang selama ini menjadi bosnya, ada perasaan kecewa dan benci ketika melihat wajah seseorang yang disebut bosnya itu, dan suka seenaknya menyuruh-nyuruhnya.
“ san, setelah ini, buang semua tumpukan surat ini “. Pak Slamet segera memakan salah satu bakwan yang bahkan belum ditaruh Hasan.
Hasan mengangguk, diambilnya sebuah kantong plastik hitam besar. Ini lah yang tidak dia suka, dan hanya dia yang tahu tentang hal ini, apa boleh buat, dia hanya bisa marah-marah sendiri ketika melakukan hal itu, menyesal, dan tidak berani melaporkan kebatilan, itulah penyesalannya, hanya menatap dengan benci yang dia bisa.
“ yang merah ini ya juga “ ucap Pak Slamet, makanan di mutlutnya terus beradu dengan gigi gerahamnya.
Hasan menurut, kembali dia ambil surat itu dan ditaruhnya di dalam kantong plastik bersama tumpukan surat lainnya.
…
2 sahabat, 1 janji
2 sahabat, 1 janji…
Desember 1993…
Kalian tahu, malam ini terasa sangat berat bagiku, juga bagi sahabatku Fadil, karena malam ini adalah, malam terakhir buat kami tuk tidur dan bertemu di pesantren ini. Malam yang panjang, perjalanan hidup yang singkat. Bulan bersinar mesra merangkul bintang-bintang yang selalu tersenyum manis, angin malam berhembus sepoi-sepoi menyentuh kami yang tengah asyik menyiapkan panggung acara khataman kelas akhir besok pagi. Aku dan Fadil membantu menyusun kursi-kursi yang akan kami tempati, malam terasa begitu cepat, ini adalah akhir, akhir dari kehidupan kami disini. Enam tahun sudah kami didik dan ditempa disini, tanpa ada rasa penyesalan. Tapi selalu akan ada rasa rindu di hati kami, kepada para guru, kepada para setiap santri, kepada setiap ilmu dan kepada setiap pengalaman berharga yang telah kami dapati.
Sepanjang malam aku dan Fadil tidak bisa tidur, kami asyik berbincang tentang tujuan, impian di masa yang akan datang, kau tahu kawan_, tidak mudah tuk melupakan setiap kenangan yang tersimpan, hati kan terus berbicara, walau pikiran selalu berusaha tuk melupakannya. Kadang tertawa, serius dan sedikit marah, begitulah percakapan kami yang sering terjadi.
“ tujuanmu yang sebenarnya kemana dil ?”.
“ kalau aku sih sudah pasti, ingin belajar psikolog, kamu sendiri bagaimana fer ?”.
“ entahlah, kemana nanti, yang jelas aku suatu saat nanti ingin menjadi seorang penulis kalau bisa sih, terkenal,”.
Dan malam itu kami berjanji, berjanji tuk menggapai mimpi kami masing-masing, tak peduli apa, tak peduli bagaimana, yang jelas satu hal janji, mimpi dan hasrat yang kami tuju ini tidaklah mudah. Bulan menyaksikan sambil tersenyum dan tuhan di atas sana di tempat yang lebih tinggi lagi mendengarkan dan menyimpan impian kami yang kami percaya akan di kabulkan suatu saat nanti.
…
Satu per satu nama kami dipanggil dan naik ke atas panggung, tangis kami pecah saat puisi dibacakan, para guru-guru yang menyayangi kami dengan tulus juga ikut mengeluarkan air mata, hari ini menjadi saksi akan kepergian kami.
Kami saling peluk dan berjabat tangan, deraian air mata terus mengalir, kau tahu kawan_ , kadang kita tidak merasa betapa sayangnya kita dengan teman kita itu ketika dekat, tapi setelah kita berpisah jauh, baru rasa sayang itu terasa. Di depan kamar Fadil memelukku, ini adalah perpisahan kami yang paling menyakitkan, aku sesanggukan, mataku merah, teman-temanku kini telah pergi, entah kemana ?. ke tempat tujuan mereka masing-masing. Aku dan sahabatku ini saling mengepalkan tangan, balas tersenyum dan saling berjanji tuk kirim surat, dan menanti masa depan yang sudah tidak jauh lagi di depan mata.
…
Februari 1994
Beberapa bulan telah berlalu dan Aku akhirnya diterima di universitas lambung mangkurat di dekat tempat tinggalku ini, dengan jurusan MIPA kimia, sudah lama aku ingin menjadi seorang ahli kimia. Kebahagianku ini segera ku kabarkan kepada sahabatku itu. Lewat surat kutuliskan dan selang tak berapa lama aku menerima jawaban darinya.
Kepada kawanku, Fery…
Kau bahagia, aku pun turut bahagia kawan, kau tahu tidak sebentar lagi aku akan pergi ke pulau seberang sana, menuntut ilmu yang selalu ku impikan dari dulu, seperti dirimu aku juga berhasil lulus ujian yang disini, belum disana, tapi tenang saja kawan, kau tahu kan siapa diriku, kita kan tertawa nanti, oh iya aku hampir lupa, ulang tahun mu kan hari kemarin, maaf mungkin aku terlambat menyampaikan selamat ulang tahun, tapi doaku selalu tertuju padamu.
Sudah beberapa bulan kita tidak bertemu, tapi kalau kita bertemu sekarang, tidak asyik lagi rasanya, baru sebentar, pasti tidak ada yang berubah darimu, tapi ngomong-ngomong, sudah ada punya gebetan belum nih, hehe. Kalau aku sih jangan ditanya, sudah pasti ada dong. Tapi kalau belum jangan cemburu ya, nanti ada saatnya kau juga merasakan yang saat ini kurasakan.
Mungkin suratku hanya terputus sampai disini saja ya, kau kirm ke rumahku pun mungkin tak terbalas soalnya aku akan merantau, tapi kau jangan takut, begitu dapat tempat tinggal menetap kau akan langsung ku kabari, aku hanya minta doa saja buat ujian disana, juga buat keselamatanku, kau tahu pulau jawa kan, tidak seindah yang kita kira, tapi mungkin tidak seburuk yang kusangka juga, nanti kau akan kugambarkan bagaimana pulau jawa ini, juga beberapa lembar fotonya, jaga dirimu baik-baik kawan. Sampai saatnya kita berjumpa dengan gengaman mimpi di tangan kita masing-masing.
Salam kawanmu
Fadil…
Aku menarik napas dalam, senang juga rasanya aku mengetahui kabar temanku yang satu itu, aku ingat sebelum perpisahan terakhir itu aku diberi pesan oleh salah satu guru yang paling senior, aku Fadil dan beberapa orang lainnnya, pesan dan nasihat beliau itu adalah.
“ ingat ini ya, nanti kalau sudah di luar, jangan tinggalkan waqi’ah dan jangan pacaran”.
Kami mengangguk artinya kami menyanggupi apa amanah dari sang ustadz, dan baru saja Fadil ini mengatakan dia sudah punya pacar, dasar, aku ingin tahu apa yang akan terjadi nantinya. Kalau amanah ustadz itu dilanggar, kualat pasti hasilnya.
…
Hari-hariku di banjar berlalu dengan santai, pelajaran-pelajaran baru sudah mulai kudapat, owh tuhan, ternyata pelajaran kimia tidak senyaman yang kukira, ditambah fisika dan pelajaran sains lainnya, yang akan membuatmu berpikir bahkan sampai kau harus mengalahkan apa yang tidak kau bisa. Yang paling sulit dari semua pelajaran tentu saja fisika, setiap kali ulangan harian, aku dan teman-teman lainnya hanya bisa bertaruh, nilai kami sudah pasti, dan kami selalu mengatakan.
“ tinggal menghitung jumlah nol di depan angka koma saja,yang banyak dia yang menang “.
Kehidupan disini. Berjalan lebih cepat dari biasanya, hiruk-pikuk kota selalu membuat terlihat kota ini tidak pernah berhenti bernapas. Sudah hampir setengah tahun aku tidak menerima surat dari Fadil, dan sudah setengah tahun ini aku juga tidak bisa mengirim surat kepadanya, bagaimana kabarnya, apa yang terjadi padanya semuanya tidak kutahu. Semua walau aku orang yang mudah bergaul tapi tetap saja aku tidak bisa menemukan teman yang seperti dia, tapi dimana dia. Dimana suratnya.
…
Maret 1994…
Akhirnya aku memasuki final test, tapi sebenarnya masalahku bukan itu, masalahnya sampai sekarang Fadil tidak juga mengabariku tentang keberadaannya sampai sekarang. Aku mulai khawatir terjadi sesuatu pada dirinya. Apa dia berhasil lulus test ujian masuk, apa dia masih hidup, apa telah terjadi sesuatu padanya sampai tidak mau memberitahukan keadaannya padaku.
Pelajaran yang diujikan hari ini adalah biologi dan kimia, kalau ini sih aku masih bisa mendapatkan nilai B, tapi tidak mustahil aku meraih nilai A, tapi ada kemungkinan juga aku mendapat nilai C, jadi aku berinsiatif tuk mengambil yang di tengah nilai B, karena nilai itu juga sudah paling sulit. Tidak seperti jaman sekarang, nilai A dan B itu begitu mudah didapat, dulu itu sulit sekali. Bahkan nilai B pun sudah dianggap nilai yang hebat.
Setelah ujian aku di kejutkan dengan sebuah surat yang tergeletak di depan rumahku, surat putih itu kuperhatikan, dan dengan segera kuambil, mungkin itu dari sahabatku Fadil, bergegas aku turun dari motor, kupasang stank penahan, kuambil surat itu dan kubaca, ternyata bukan buatku , buat ayahku, dari kantornya.
“ permisi mas “. Seseorang sepertinya berbicara dari balik punggungku, aku menoleh kepadanya, tukang pos.
“ ada apa pak ?”.
“ tuan Fery indrawan tinggal disini ?”.
“ ya saya ada apa?”.
“ ini ada surat tadi saya lupa menaruhnya “ pak pos itu mengeluarkan sepucuk surat dari balik kantong bajunya. Dan menyerahkannya padaku.
Kubaca pengirimnya, dari Fadil, akhirnya surat yang kutunggu datang juga, aku tersenyum-senyum sendiri sampai tidak sadar pak pos itu beberapa kali permisi mau pulang padaku.
“ ah ya pak maaf, terima kasih ya pak, hati-hati” aku melapas kepergian tukang pos yang segera menghilang meninggalkan asap. Aku langusng membuka pintu dan segera berlari ke kamarku.
Dengan segera Aku menghempaskan diriku ke atas kasurku yang empuk, tak peduli aku belum ganti baju, tak peduli pada semua hal yang ada disekitarku, yang jelas sebuah surat yang kutunggu-tunggu selama ini akhirnya datang juga. Brengsek kau sobat, membuatku khawatir saja. Kubuka surat itu dan kubaca.
Kawanku Fery indrawan…
sebelumnya aku mohon maaf kawan, mungkin kau khawatir, mungkin kau marah, dan mungkin kau selama ini sudah menanti-nanti surat dariku, tapi aku sama sekali tidak memberi kabar, aku benar-benar minta maaf kawan…
sudah setengah tahun ya kan, bagaimana kabarmu ? kabarku sudah jelas, baik dan sehat, dan aku juga lulus tes ujian dan sekarang aku kuliah di jogja, di UII, sebenarnya aku tidak mengirimimu surat Karena aku sendiri selama setengah tahun ini belum menemukan tempat tinggal yang menetap, kadang aku ikut menumpang dengan teman lainnya, untungnya mereka mau menerimanaku, tapi aku tidak enak juga kalau berlama-lama, nah sekarang baru aku menemukan sebuah tempat kost buat tinggal, kau tahu kawan, ternyata jogja ini tidak jauh berbeda dari kota asal kita, ternyata semua tempat itu sama saja, hanya dalam pikiran kita saja yang beda. Oh iya bukankah dulu aku pernah cerita aku sudah memiliki seorang pacar, aku kualat, aku lupa amanah terakhir ustad kita, dan kau tahu akhirnya cintaku berakhir dengan sangat menyakitkan, aku seolah dipermainkan oleh seorang perempuan, dan kau ,kau sendiri bagaimana ?, apa kau juga mau mencoba sepertiku ini, sebaiknya… terserah kau saja deh,hehe.
Sudah lama juga kita tidak berjumpa, apa kau sudah banyak berubah ?, atau kau tetap seperti dulu ?, bagiku yang mana pun tidak masalah, asal kau tidak pernah lupa denganku sahabatmu ini.
Dan bagaimana kuliahmu, mungkin ketika surat ini sampai di tempatmu kau sedang menghadapi final test, begitu juga aku disini, menurutku kuliah tidak seperti yang pernah kita pikirkan dulu, tidak terlalu terpaut waktu, bebas pakaian resmi dan bisa santai sambil jalan-jalan setiap sore, ternyata tidak, jauh berbeda, walau pakaian bebas, tapi tetap saja tidak bisa santai, malah jadwal kuliah lebih padat dari pada kita belajar di aliyah dulu, pelajarannya ya ampun dan lagi-lagi kawan disini aku tertarik kepada seorang perempuan asal solo, ya ampun jelita sekali perempuan itu, tutur katanya halus dan lembut,kalau kau jadi aku kau juga pasti akan berpikir yang sama denganku. Tapi ketika dekat denganya kadang aku takut ,kalau ingat kejadian tempo dulu, sebuah pengalaman adalah sebuah pelajaran, tapi kadang aku lupa juga dengan pangalaman itu sendiri, seolah-olah itu hanyalah kebarhasilan yang tertunda.
Fery kawanku…
Begitu banyak seklai pengalaman yang kualami setengah tahun ini, tapi tidak mungkin kan aku ceritkan semua yang terjadi padaku, kau sendiri tahu aku tidak begitu suka menulis, tidak seperti kau yang hobinya nulis melulu sampai setiap pelajaran di kelas pun kau gunakan buat menulis, hah dasar kau ini… cerita kita mungkin tidak pernah habis sampai kita bertemu lagi suatu saat nanti, kau sendiri pasti punya banyak sekali cerita selama setengah tahun ini ya kan ?. tapi biarlah dulu kita simpan sedikit certita kita, dan saling berbagi kabar.
Nah kawan mungkin suratku kali ini cukup sampai disini saja ya, jangan lupa balas suratku, apapun yang terjadi ingat kita harus selalu memberi tahukan keadaan oke?
Salam hangat kawanmu
Fadil.
“ dasar sialan kau sobat “ ingin kuremuk kertas surat itu, air mataku tumpah ke pipi, kutaruh kertas itu didadaku dan berucap terima kasih kepada tuhan, karena aku tahu kawanku itu dalam keadaan yang baik-baik saja. Akhirnya sebuah kekosongan di hatiku terisi, walau hanya sebuah surat, bagiku itu sudah lebih dari cukup.
Dan benar kan apa kataku, kisah percintaannya pasti tidakkan lama, begitulah kalau melawan amanah ustadz, kualat.
Aku bangkit dan segera mandi, membersihakn diri, lalu memakai pakaian yang rapi, makan dan duduk di depan meja balajarku, kuambil secarik kertas yang selalu kusediakan khusus buat menulis surat kepada sahabatku ini. Sedangkan suratnya kutaruh khusus di sebuah dokumen penting agar tidak hilang. Kuambil pulpen dan mulai menuliskan surat yang akan kutujukan padanya.
Kepada kawanku Fadil.
Seenaknya saja kau ini, kau tahu selama setangah tahun ini aku khawatir, aku cemas, dan kau tiba-tiba mengirimi ku surat seprti ini…tapi sudahlah, apapun yang kau lakukan aku akan selalu memaafkanmu sobat, ingat tidak kau dulu, waktu kita masih di aliyah, begitu sering kita bertengkar Karena hal-hal yang sepele, tapi setelah itu maafan, dan tak lama setelah itu bermusuhan kembali, mungkin begitulah, kalau kita dekat kadang ada rasa permusuhan, tapi kalau jauh rindu juga kalau tak ada kabar.
Mungkin kau benar, aku akhirnya mulai tertarik pada seorang perempuan, tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya, kau ingatkan aku ini orangnya pemalu, juga tidak terlalu percaya diri, sudah dua bulan aku menyukainya, tapi sampai sekarang namanya pun tak kutahu.
Kisahku ini bermula saat seminar ilmiah yang diadakan kampus, saat itu acara sudah hampir selesai, karena aku tidak tertarik menikmati acara ini sampai akhir aku keluar lebih dulu, di sebelah pintu itulah aku berpapasan dengannya, aku menatapnya, dia manatap dan tersenyum manis padaku, seorang perempuan dengan wajah yang rupawan, dibalut dengan kerudung hitam yang indah menghias. Kau tahu sobat, hanya itu aku berani bertatap muka dengannya, seterusnya sampai sekarang, tidak lagi, aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sungguh pahit cintaku. Tapi tak apa lah, aku bersyukur masih ingat kamu, bagiku teman lebih dari segalanya, kadang cinta membuat kita terluka, kadang cinta membuat kita kecewa, dan terkadang cinta membuat kita putus asa, tapi sahabat beda, bagiku sahabat lebih dari itu, ada di saat terluka, menolong disaat terjepit, senang dikala senang, sedih dikala sakit, itu berarti lebih dari apapun biarlah cinta ini tuhan yang mengatur, aku hanya akan menunggu dan berharap, bahwa jodohku adalah dia, si kerudung hitam menawan itu.
Sobat, suratmu ini sampai ketanganku ketika aku final test di hari pertama, aku juga kaget, siapa yang mengirimi aku surat, tak tahunya kau, Karena sudah lama kau tak kirimi aku surat, kukira kau sudah lupa padaku, dan menggantinya dengan kawan yang baru.
Tapi kalau begini kan enak juga rasanya, aku mengetahui kabarmu, dan kau juga mengetahui kabarku, berbagi cerita, berbagi bahagia, aku menulis surat ini sambil membayangkan kau, bagaimana dirimu sekarang, apa masih seperti dulu ?. sudahlah pertanyaan itu biar waktu yang menjawab.
Nah kawan mungkin suratku kali ini tidak bisa kutuliskan terlalu panjang, karena setetangh dari pikiranku saat ini sedang focus ke ujian, mungkin nanti kita kan berbagi kisah lagi, sehat selalu.
Salam sobatmu
Fery indrawan
Perasaan lega mengaliri tubuhku seusai menulis surat ini, ingin rasanya aku berbagi cerita dengannya sambil nongkrong dengan menikmati segelas kopi susu hangat di warung tempat kami biasa santai, bercerita sampai larut, bercerita apa yang sudah kami alami, tapi mungkin itu suatu saat nanti, dan aku selalu berdoa, semoga kami dipertemukan kembali di atas puncak yang sedang kami daki sekarang ini.
…
Ulangan berakhir, hasil nilai pun di umumkan, aku segera berdesak-desakkan di tengah kerumunan, kucari-cari namaku diantara ribuan banyaknya nama, ada hasil nilai yang tak kuduga, rata-ratanya B, ada sedikit C dan ada satu D, sayangnya tidak lengkap, karena nilai A nya tidak ada. Tapi syukur juga aku bisa naik tingkat, dan aku berjanji untuk lebih giat lagi belajar, aku menjauh dari kerumunan itu, pandanganku ke bawah tuk melindungi wajahku.
“ bruk…” tiba-tiba aku menabrak seseorang, buku-bukunya berjatuhan, dia menunduk, aku juga, kubantu dia memunguti buku-buku itu.
“ terima kasih “ ucapnya dan alangkah kagetnya aku ketika melihat siapa dia, dia adalah perempuan yang tempo hari pernah kuceritakan.
Aku terdiam.
“ maaf “ ucapnya lagi.
“ ah ..ah.. ngga papa “ aku bingung mau bicara apa, sambil menggaruk-garuk kepala yang tentu tidak gatal. “ anu,.. kamu… tidak apa-apa kan ?”.
Dia tersenyum dan menjawab “ iya, makasih ya “.
Aku mengangguk “ eh kamu… kan kalau tidak salah… yang di muka gedung ser..baguna kemarin “.
Dia diam sebentar sambil menatap wajahku, lalu aku menunduk, tidak sopan, sebenarnya tidak enak juga sih kalau saling menatap. “ oh kamu ya…yayaya aku ingat , gimana hasil ulangannya ?”.
“ yah lumayan lah “.
Dan percakapan kami pun berlanjut, kubantu dia melihat hasil ulangannya, lalu kami menuju sebuah warung es nyiur di pinggir kampus. Baru kali ini aku merasa lain ketika bicara dengan perempuan, walau awalnya aku sering terbata-bata dan agak grogi ketika bicara, tapi setelah lama bicara akhirnya aku sudah bisa menenangkan diri, bicaraku jadi lancar, dan baru kutahu dia juga anak MIPA, jurusan biologi, yang kutahu waktu melihat hasilnya tadi bisa dinggap dia bukan anak yang suka main-main, nilainya rata-rata B bahkan ada yang A, tidak ada C apalagi D. semakin kagum aku pada perempuan yang satu ini, lama kami bercakap-cakap. Dan kutahu namanya Annisa, nama yang indah menurutku, karena aku suka orangnya. aku pun mengantarkannya pulang, sayang dia bukan orang banjar asli, jadi dia ngekost disini, ingin sih kuajak dia menginap di rumahku, tapi apa kata orang, niat baik selalu disangka buruk.
Aku langsung menulis surat kepada Fadil, kemungkinan dia juga sudah selesai ulangan, apa pun hasilnya kami tetap berbagi, kutulis surat itu dengan cepat dan segera kukirimkan, aku tidak sabar menunggu kedatangan surat itu, padahal baru saja kukirim, sampai juga belum ke tangannya, tapi hampir saja aku memaksa tukang posnya untuk segera mengantar suratku itu hari ini. Kalau itu terjadi yang ada malah suratku yang tidakkan bisa sampai kepada tujuannya.
Selang seminggu kemudian baru aku menerima surat balasan, aku sudah tidak sabar lagi segera kubuka surat itu dan kubaca.
Kawanku Fery…
Aku disini baik-baik saja, walau beberapa hari yang lalu sempat sakit, karena aku suka mengulur-ngulur waktu makan dan aku pun terkena maag, kau sendiri bagaimana,? Aku tahu kau sedang bahagia kawan, ternyata cinta juga yang terpilih, asal jangan kau lupakan kawanmu ini aku tetap kan selalu mendukungmu. Sebenarnya ingin kuulangi teori-teorimu yang selalu mengataskan nama sahabat dari cinta, tak tahunya malah sendirnya terkena cinta.
Tapi tak apalah, satu kata, aku juga bahagia, tapi ingat pesan ustadz kita, jangan sampai kau menorehkan kisahku tuk yang kedua kalinya.
Hasil ulanganku …gimana ya…sebenarnya hasil ulanganku, hampir sama denganmu, tapi aku tidak ada nilai D, juga tak ada nilai A. begitulah, mungkin kita perlu belajar lebih lagi, lebih giat, lebih dari yang kita bisa, belajar dan bekerja, kau tahu kawan, hidup disini aku juga kerja sambilan, membantu di sebuah warung makan, kau tahulah, aku ini orang perantaun, uang itu tidak selamanya kuterima tepat waktu, kadang aku harus puasa, kadang juga aku tidak makan seharian, hanya minum air putih mentah, tapi tuhan tidak pernah membiarkan ku kelaparan, aku dipertemukan dengan seorang pemilik warung makan pinggiran jalan yang baik hati, beliau akan memberiku makan asal aku jadi pelayan disana, jadinya aku tidakkan pernah kelaparan lagi.
Dan kau ingat kawan, pernahkan kuceritakan padamu tentang seseorang lagi yang tengah mengisi hatiku, sampai sekarang aku tidak bisa mengenalnya jauh, mendekatinya saja aku tidak bisa, cintaku seperti di acuhkan begitu saja, tapi aku tetap berusaha , aku mohon doanya kawan, tidak ada hal yang mustahil di dunia ini.
Mungkin sampai sini dulu suratku, lain kali kalau ada cerita menarik kau akan ku kabari, eh bagaimana novelmu, sudah mau diterbitkan belum, kalau belum nanti kirim bersama suratmu, selanjutnya biar aku yang usahakan di jawa sini. Sampai jumpa.
Salam
Fadil
…
November 1997
Waktu terasa begitu cepat berlalu, suara gemuruh membahana di gedung sultan suriansayah ini, tangis haru akan kelulusan kami kian beradu, setelah menmpuh jalan panjang akhirnya aku lulus di tahun keempat, perjalanan yang panjang tapi terasa nikmat dan singkat, ijazah-ijazah kelulusan dibagikan, namaku dipanggil, aku naik ke atas podium dengan bangga karena bisa lulus dengan cepat.
Dari atas panggung kulihat kedua orang tuaku tersenyum bangga padaku, anaknya yang ternyata tidak mengecewakan, di lain sisi kulihat Annisa juga tersenyum, dia sudah lulus lebih dulu dari ku, kuakui dia lebih jenius dariku, aku mengetahui itu ketika kami sering belajar bersama.
Kau tahu kawan aku dan Annisa sudah bertunangan, aku melakukan ini karena dia tidak mau pacaran, lalu aku melamarnya dan dia setuju, katanya dia juga sedang mencari seorang pendamping dari lulusan pesantren, dunia ini seakan harum. Dan artinya aku dan Annisa sudah saling merasa memiliki satu sama lain, senangnya aku, kalian tahu perjuanganku mendapatkannya tidaklah mudah, perlu setengah tahun bagiku untuk bisa mendapatkan hatinya dan baru bisa kulamar. Tapi itulah cinta, perlu diperjuangkan.
Dan sekarang novelku juga sudah menjadi fenomenal yang akan ditayangkan di layar lebar, ini semua berkat Fadil yang mencoba mengajukan naskahku kepada para penerbit yang ada di luar pulau sana, untuk bisa diterima tidaklah mudah, novelku beberapa kali ditolak, aku mencoba mengarangnya lagi, lagi dan lagi sampai akhirnya penitikan ait mata,dan usahaku membuahkan hasil yang pasti, novelku menjadi bestseller nasional “kukibarkan benderaku “ novel yang kutulis dengan mengingat sejarah perjuangan para pahlawan tanah air yang tak kenal menyerah, dibantu oleh kekasihku Annisa novel itu akhirnya menjadi sebuah buku yang diterbitkan di masyarakat. Tapi Fadil, dia menghilang empat bulan yang lalu adalah hari terakhir aku menerima suratnya. Yang kutahu dari berita terakhirnya, perempuan yang ditaksirnya itu menolak mentah-mentah kehadiran dirinya. Tapi sampai sekarang aku tidak juga tahu keberadaannya,kukirim surat ke tempatnya di jawa, kukirim surat ke rumahnya semuanya tidak ada balasan, aku jadi kahwatir.
…
Aku pegang surat terakhir Fadil dengan erat, wisudaku kali ini memang kunikmati, tapi sayangnya aku tidak bisa berbagi dengan sahabatku. Perlahan kubuka surat terakhir itu, dan kubaca.
kawanku Fery
tidak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat kawan, kau ingat dulu waktu kita masih bersama, sekarang kita juga masih bersama, tapi berbeda jarak.
Kau tahu kawan, ternyata pusat ilmu psikolog itu ada di jerman, dan tekadku sudah bulat tuk pergi kesana.
“ mas Fery “ Annisa tiba-tiba menegurku dan menghentikan bacaan ku “ kok nangis kenapa ?”.
Aku segera menyeka air mata dengan lengan bajuku “ ah ngga, ngga ada apa-apa “.
“ cerita dong, sebentar lagi kan kita nikah, masa sama istri sendiri tidak mau cerita “ Annisa menggodaku dengan senyuman manjanya.
Aku balas tersenyum dan kuceritakan semuanya, tentang surat itu, tentang Fadil yang tidak ada lagi memberi kabar, tentang persahabatan kami di masa lampau, dan tentang begitu rindunya aku padanya. Annisa mengerti, perasaan perempuan memang tajam, dan dalam. Dan di saat seperti inilah perempuan dibutuhkan, karena dia mengerti, dan memahami keadaan kita.
…
September 2000
Senangnya hatiku melihat generasi-generasi penerus bangsa ini maju, aku menjadi salah satu juri di sebuah lomba karya tulis ilmiah, tulisan-tulisan mereka lebih hebat, cara berpikir mereka lebih maju dariku. Bangga hatiku memiliki penerus-penerusku yang seperti ini.
Seusai acara para mahasiswa itu menyalamiku dan berfoto bersama, dulu aku yang minta foto bersama, sekarang malah aku yang diminta, kadang ada juga orang yang mendekat sekedar minta tanda tangan di atas novel yang kutulis. Dulu, aku tidak pernah menyangka bisa begini, dulu ini hanyalah mimpi dan anganku seorang, dan sekarang tuhan benar-benar mewujudkannya ke kenyataan yang indah, begitu indah certia yang dimiliki tuhan, sampai tidak bisa kutuliskan dalam kata-kata. kulihat istriku berjalan ke arahku sambil menggendong buah hati kami, Irza rahman, lihatlah mukanya begitu lucu.
“ mirip dengan ayahnya “ kata sang ibu.
“ pasti nanti pintar seperti ibunya “ balasku.
Kami berjalan ke luar gedung, di gedung sebelah Nampak ada sebuah acara seminar, jaman sudah berganti, orang-orang yang dulu sering ikut seminar sekarang malah di undang buat mengisi seminar, tapi…sebuah suara yang kukenal betul dari dulu, suara ini tidak asing lagi, aku meminta istriku tuk menunggu di mobil, dia menurut, aku mencoba mengintip siapa gerangan pemilik suara ini, “ ya allah “ desirku dalam hati, itu Fadil, dia sekarang sedang memberi pengarahan, dengan jas dan pakaian yang rapi, walau sedikit berubah tapi aku tetap mengenalinya, mengenali wajahnya, dan juga auranya, ya auranya yang dari dulu tidak berubah. Dia duduk setelah memberi pengarahan yang tak lama dan keluar lewat pintu belakang, aku besiap di salah satu tiang, kuyakin suara langkah kaki yang sekarang sedang berjalan kesini adalah suara kakinya, dan
“ DO…R“ kukejutkan dirinya.
“ Fery “ ungkapnya kaget dan kami langsung memeluk satu sama lain,
Ingin kumarahi dia yang tak memberi kabar, tapi istriku menelponku tuk segera ke mobil, aku mengiyakan apa katanya, kutatap Fadil.
“ malam ini temui aku di tempat biasa “.
Dia mengangguk.
…
Malamnya.
“ yah maaf lah fer, soalnya setelah itu aku mendapat beasiswa ke jerman, dan aku lupa membawa alamatmu, jadinya sampai sekarang aku tidak bisa mengirimimu surat “.
Aku menyeruput kopisusu hangat lalu berucap “ sudahlah, bagiku itu semua tidak menjadi masalah lagi, yang penting tuhan kembali mempertemukan kita, dan tuhan juga mempertemukan kita dengan mimpi yang sudah kita janjikan ada ditangan kita “
Kami tertawa, dan bersama menyeruput kopi, kadang ada mahasiswa yang nongkrong disini dan menatap kami heran, seorang novelist terkenal sedang duduk bersama seorang pakar psikolog ternama, sedang duduk berbagi cerita dengan pakaian biasa, juga di tempat yang menurut mereka tempat ini hanya untuk mahasiswa yang kurang uang. Semua merasa heran pada kami, kecuali pemilik warung yang sudah kenal lama dengan kami, pada mereka yang terheran hanya kami balas dengan senyuman.
Malam menjadi saksi atas takdir tuhan yang kembali mempertemukan kami, dua orang sahabat yang pernah berjanji bersama tuk meraih mimpi, janji hidup. Sebuah janji tidakkan pernah bisa dihentikan jaman, malam berlalu lambat membiarkan kami berbagi cerita-cerita kehidupan yang telah kami lalui. Bulan dan bintang ikut mendengarkan karena mereka juga yang pernah menyaksikan janji kami, dan pernah menyaksikan perpisahan kami.
Alhamdulillah selesai
Tanggal 02-09-2010
Unuk sahabatku Fadil Muhammad, yang tengah sama-sama berjuang mengejar mimpi.
Desember 1993…
Kalian tahu, malam ini terasa sangat berat bagiku, juga bagi sahabatku Fadil, karena malam ini adalah, malam terakhir buat kami tuk tidur dan bertemu di pesantren ini. Malam yang panjang, perjalanan hidup yang singkat. Bulan bersinar mesra merangkul bintang-bintang yang selalu tersenyum manis, angin malam berhembus sepoi-sepoi menyentuh kami yang tengah asyik menyiapkan panggung acara khataman kelas akhir besok pagi. Aku dan Fadil membantu menyusun kursi-kursi yang akan kami tempati, malam terasa begitu cepat, ini adalah akhir, akhir dari kehidupan kami disini. Enam tahun sudah kami didik dan ditempa disini, tanpa ada rasa penyesalan. Tapi selalu akan ada rasa rindu di hati kami, kepada para guru, kepada para setiap santri, kepada setiap ilmu dan kepada setiap pengalaman berharga yang telah kami dapati.
Sepanjang malam aku dan Fadil tidak bisa tidur, kami asyik berbincang tentang tujuan, impian di masa yang akan datang, kau tahu kawan_, tidak mudah tuk melupakan setiap kenangan yang tersimpan, hati kan terus berbicara, walau pikiran selalu berusaha tuk melupakannya. Kadang tertawa, serius dan sedikit marah, begitulah percakapan kami yang sering terjadi.
“ tujuanmu yang sebenarnya kemana dil ?”.
“ kalau aku sih sudah pasti, ingin belajar psikolog, kamu sendiri bagaimana fer ?”.
“ entahlah, kemana nanti, yang jelas aku suatu saat nanti ingin menjadi seorang penulis kalau bisa sih, terkenal,”.
Dan malam itu kami berjanji, berjanji tuk menggapai mimpi kami masing-masing, tak peduli apa, tak peduli bagaimana, yang jelas satu hal janji, mimpi dan hasrat yang kami tuju ini tidaklah mudah. Bulan menyaksikan sambil tersenyum dan tuhan di atas sana di tempat yang lebih tinggi lagi mendengarkan dan menyimpan impian kami yang kami percaya akan di kabulkan suatu saat nanti.
…
Satu per satu nama kami dipanggil dan naik ke atas panggung, tangis kami pecah saat puisi dibacakan, para guru-guru yang menyayangi kami dengan tulus juga ikut mengeluarkan air mata, hari ini menjadi saksi akan kepergian kami.
Kami saling peluk dan berjabat tangan, deraian air mata terus mengalir, kau tahu kawan_ , kadang kita tidak merasa betapa sayangnya kita dengan teman kita itu ketika dekat, tapi setelah kita berpisah jauh, baru rasa sayang itu terasa. Di depan kamar Fadil memelukku, ini adalah perpisahan kami yang paling menyakitkan, aku sesanggukan, mataku merah, teman-temanku kini telah pergi, entah kemana ?. ke tempat tujuan mereka masing-masing. Aku dan sahabatku ini saling mengepalkan tangan, balas tersenyum dan saling berjanji tuk kirim surat, dan menanti masa depan yang sudah tidak jauh lagi di depan mata.
…
Februari 1994
Beberapa bulan telah berlalu dan Aku akhirnya diterima di universitas lambung mangkurat di dekat tempat tinggalku ini, dengan jurusan MIPA kimia, sudah lama aku ingin menjadi seorang ahli kimia. Kebahagianku ini segera ku kabarkan kepada sahabatku itu. Lewat surat kutuliskan dan selang tak berapa lama aku menerima jawaban darinya.
Kepada kawanku, Fery…
Kau bahagia, aku pun turut bahagia kawan, kau tahu tidak sebentar lagi aku akan pergi ke pulau seberang sana, menuntut ilmu yang selalu ku impikan dari dulu, seperti dirimu aku juga berhasil lulus ujian yang disini, belum disana, tapi tenang saja kawan, kau tahu kan siapa diriku, kita kan tertawa nanti, oh iya aku hampir lupa, ulang tahun mu kan hari kemarin, maaf mungkin aku terlambat menyampaikan selamat ulang tahun, tapi doaku selalu tertuju padamu.
Sudah beberapa bulan kita tidak bertemu, tapi kalau kita bertemu sekarang, tidak asyik lagi rasanya, baru sebentar, pasti tidak ada yang berubah darimu, tapi ngomong-ngomong, sudah ada punya gebetan belum nih, hehe. Kalau aku sih jangan ditanya, sudah pasti ada dong. Tapi kalau belum jangan cemburu ya, nanti ada saatnya kau juga merasakan yang saat ini kurasakan.
Mungkin suratku hanya terputus sampai disini saja ya, kau kirm ke rumahku pun mungkin tak terbalas soalnya aku akan merantau, tapi kau jangan takut, begitu dapat tempat tinggal menetap kau akan langsung ku kabari, aku hanya minta doa saja buat ujian disana, juga buat keselamatanku, kau tahu pulau jawa kan, tidak seindah yang kita kira, tapi mungkin tidak seburuk yang kusangka juga, nanti kau akan kugambarkan bagaimana pulau jawa ini, juga beberapa lembar fotonya, jaga dirimu baik-baik kawan. Sampai saatnya kita berjumpa dengan gengaman mimpi di tangan kita masing-masing.
Salam kawanmu
Fadil…
Aku menarik napas dalam, senang juga rasanya aku mengetahui kabar temanku yang satu itu, aku ingat sebelum perpisahan terakhir itu aku diberi pesan oleh salah satu guru yang paling senior, aku Fadil dan beberapa orang lainnnya, pesan dan nasihat beliau itu adalah.
“ ingat ini ya, nanti kalau sudah di luar, jangan tinggalkan waqi’ah dan jangan pacaran”.
Kami mengangguk artinya kami menyanggupi apa amanah dari sang ustadz, dan baru saja Fadil ini mengatakan dia sudah punya pacar, dasar, aku ingin tahu apa yang akan terjadi nantinya. Kalau amanah ustadz itu dilanggar, kualat pasti hasilnya.
…
Hari-hariku di banjar berlalu dengan santai, pelajaran-pelajaran baru sudah mulai kudapat, owh tuhan, ternyata pelajaran kimia tidak senyaman yang kukira, ditambah fisika dan pelajaran sains lainnya, yang akan membuatmu berpikir bahkan sampai kau harus mengalahkan apa yang tidak kau bisa. Yang paling sulit dari semua pelajaran tentu saja fisika, setiap kali ulangan harian, aku dan teman-teman lainnya hanya bisa bertaruh, nilai kami sudah pasti, dan kami selalu mengatakan.
“ tinggal menghitung jumlah nol di depan angka koma saja,yang banyak dia yang menang “.
Kehidupan disini. Berjalan lebih cepat dari biasanya, hiruk-pikuk kota selalu membuat terlihat kota ini tidak pernah berhenti bernapas. Sudah hampir setengah tahun aku tidak menerima surat dari Fadil, dan sudah setengah tahun ini aku juga tidak bisa mengirim surat kepadanya, bagaimana kabarnya, apa yang terjadi padanya semuanya tidak kutahu. Semua walau aku orang yang mudah bergaul tapi tetap saja aku tidak bisa menemukan teman yang seperti dia, tapi dimana dia. Dimana suratnya.
…
Maret 1994…
Akhirnya aku memasuki final test, tapi sebenarnya masalahku bukan itu, masalahnya sampai sekarang Fadil tidak juga mengabariku tentang keberadaannya sampai sekarang. Aku mulai khawatir terjadi sesuatu pada dirinya. Apa dia berhasil lulus test ujian masuk, apa dia masih hidup, apa telah terjadi sesuatu padanya sampai tidak mau memberitahukan keadaannya padaku.
Pelajaran yang diujikan hari ini adalah biologi dan kimia, kalau ini sih aku masih bisa mendapatkan nilai B, tapi tidak mustahil aku meraih nilai A, tapi ada kemungkinan juga aku mendapat nilai C, jadi aku berinsiatif tuk mengambil yang di tengah nilai B, karena nilai itu juga sudah paling sulit. Tidak seperti jaman sekarang, nilai A dan B itu begitu mudah didapat, dulu itu sulit sekali. Bahkan nilai B pun sudah dianggap nilai yang hebat.
Setelah ujian aku di kejutkan dengan sebuah surat yang tergeletak di depan rumahku, surat putih itu kuperhatikan, dan dengan segera kuambil, mungkin itu dari sahabatku Fadil, bergegas aku turun dari motor, kupasang stank penahan, kuambil surat itu dan kubaca, ternyata bukan buatku , buat ayahku, dari kantornya.
“ permisi mas “. Seseorang sepertinya berbicara dari balik punggungku, aku menoleh kepadanya, tukang pos.
“ ada apa pak ?”.
“ tuan Fery indrawan tinggal disini ?”.
“ ya saya ada apa?”.
“ ini ada surat tadi saya lupa menaruhnya “ pak pos itu mengeluarkan sepucuk surat dari balik kantong bajunya. Dan menyerahkannya padaku.
Kubaca pengirimnya, dari Fadil, akhirnya surat yang kutunggu datang juga, aku tersenyum-senyum sendiri sampai tidak sadar pak pos itu beberapa kali permisi mau pulang padaku.
“ ah ya pak maaf, terima kasih ya pak, hati-hati” aku melapas kepergian tukang pos yang segera menghilang meninggalkan asap. Aku langusng membuka pintu dan segera berlari ke kamarku.
Dengan segera Aku menghempaskan diriku ke atas kasurku yang empuk, tak peduli aku belum ganti baju, tak peduli pada semua hal yang ada disekitarku, yang jelas sebuah surat yang kutunggu-tunggu selama ini akhirnya datang juga. Brengsek kau sobat, membuatku khawatir saja. Kubuka surat itu dan kubaca.
Kawanku Fery indrawan…
sebelumnya aku mohon maaf kawan, mungkin kau khawatir, mungkin kau marah, dan mungkin kau selama ini sudah menanti-nanti surat dariku, tapi aku sama sekali tidak memberi kabar, aku benar-benar minta maaf kawan…
sudah setengah tahun ya kan, bagaimana kabarmu ? kabarku sudah jelas, baik dan sehat, dan aku juga lulus tes ujian dan sekarang aku kuliah di jogja, di UII, sebenarnya aku tidak mengirimimu surat Karena aku sendiri selama setengah tahun ini belum menemukan tempat tinggal yang menetap, kadang aku ikut menumpang dengan teman lainnya, untungnya mereka mau menerimanaku, tapi aku tidak enak juga kalau berlama-lama, nah sekarang baru aku menemukan sebuah tempat kost buat tinggal, kau tahu kawan, ternyata jogja ini tidak jauh berbeda dari kota asal kita, ternyata semua tempat itu sama saja, hanya dalam pikiran kita saja yang beda. Oh iya bukankah dulu aku pernah cerita aku sudah memiliki seorang pacar, aku kualat, aku lupa amanah terakhir ustad kita, dan kau tahu akhirnya cintaku berakhir dengan sangat menyakitkan, aku seolah dipermainkan oleh seorang perempuan, dan kau ,kau sendiri bagaimana ?, apa kau juga mau mencoba sepertiku ini, sebaiknya… terserah kau saja deh,hehe.
Sudah lama juga kita tidak berjumpa, apa kau sudah banyak berubah ?, atau kau tetap seperti dulu ?, bagiku yang mana pun tidak masalah, asal kau tidak pernah lupa denganku sahabatmu ini.
Dan bagaimana kuliahmu, mungkin ketika surat ini sampai di tempatmu kau sedang menghadapi final test, begitu juga aku disini, menurutku kuliah tidak seperti yang pernah kita pikirkan dulu, tidak terlalu terpaut waktu, bebas pakaian resmi dan bisa santai sambil jalan-jalan setiap sore, ternyata tidak, jauh berbeda, walau pakaian bebas, tapi tetap saja tidak bisa santai, malah jadwal kuliah lebih padat dari pada kita belajar di aliyah dulu, pelajarannya ya ampun dan lagi-lagi kawan disini aku tertarik kepada seorang perempuan asal solo, ya ampun jelita sekali perempuan itu, tutur katanya halus dan lembut,kalau kau jadi aku kau juga pasti akan berpikir yang sama denganku. Tapi ketika dekat denganya kadang aku takut ,kalau ingat kejadian tempo dulu, sebuah pengalaman adalah sebuah pelajaran, tapi kadang aku lupa juga dengan pangalaman itu sendiri, seolah-olah itu hanyalah kebarhasilan yang tertunda.
Fery kawanku…
Begitu banyak seklai pengalaman yang kualami setengah tahun ini, tapi tidak mungkin kan aku ceritkan semua yang terjadi padaku, kau sendiri tahu aku tidak begitu suka menulis, tidak seperti kau yang hobinya nulis melulu sampai setiap pelajaran di kelas pun kau gunakan buat menulis, hah dasar kau ini… cerita kita mungkin tidak pernah habis sampai kita bertemu lagi suatu saat nanti, kau sendiri pasti punya banyak sekali cerita selama setengah tahun ini ya kan ?. tapi biarlah dulu kita simpan sedikit certita kita, dan saling berbagi kabar.
Nah kawan mungkin suratku kali ini cukup sampai disini saja ya, jangan lupa balas suratku, apapun yang terjadi ingat kita harus selalu memberi tahukan keadaan oke?
Salam hangat kawanmu
Fadil.
“ dasar sialan kau sobat “ ingin kuremuk kertas surat itu, air mataku tumpah ke pipi, kutaruh kertas itu didadaku dan berucap terima kasih kepada tuhan, karena aku tahu kawanku itu dalam keadaan yang baik-baik saja. Akhirnya sebuah kekosongan di hatiku terisi, walau hanya sebuah surat, bagiku itu sudah lebih dari cukup.
Dan benar kan apa kataku, kisah percintaannya pasti tidakkan lama, begitulah kalau melawan amanah ustadz, kualat.
Aku bangkit dan segera mandi, membersihakn diri, lalu memakai pakaian yang rapi, makan dan duduk di depan meja balajarku, kuambil secarik kertas yang selalu kusediakan khusus buat menulis surat kepada sahabatku ini. Sedangkan suratnya kutaruh khusus di sebuah dokumen penting agar tidak hilang. Kuambil pulpen dan mulai menuliskan surat yang akan kutujukan padanya.
Kepada kawanku Fadil.
Seenaknya saja kau ini, kau tahu selama setangah tahun ini aku khawatir, aku cemas, dan kau tiba-tiba mengirimi ku surat seprti ini…tapi sudahlah, apapun yang kau lakukan aku akan selalu memaafkanmu sobat, ingat tidak kau dulu, waktu kita masih di aliyah, begitu sering kita bertengkar Karena hal-hal yang sepele, tapi setelah itu maafan, dan tak lama setelah itu bermusuhan kembali, mungkin begitulah, kalau kita dekat kadang ada rasa permusuhan, tapi kalau jauh rindu juga kalau tak ada kabar.
Mungkin kau benar, aku akhirnya mulai tertarik pada seorang perempuan, tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya, kau ingatkan aku ini orangnya pemalu, juga tidak terlalu percaya diri, sudah dua bulan aku menyukainya, tapi sampai sekarang namanya pun tak kutahu.
Kisahku ini bermula saat seminar ilmiah yang diadakan kampus, saat itu acara sudah hampir selesai, karena aku tidak tertarik menikmati acara ini sampai akhir aku keluar lebih dulu, di sebelah pintu itulah aku berpapasan dengannya, aku menatapnya, dia manatap dan tersenyum manis padaku, seorang perempuan dengan wajah yang rupawan, dibalut dengan kerudung hitam yang indah menghias. Kau tahu sobat, hanya itu aku berani bertatap muka dengannya, seterusnya sampai sekarang, tidak lagi, aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sungguh pahit cintaku. Tapi tak apa lah, aku bersyukur masih ingat kamu, bagiku teman lebih dari segalanya, kadang cinta membuat kita terluka, kadang cinta membuat kita kecewa, dan terkadang cinta membuat kita putus asa, tapi sahabat beda, bagiku sahabat lebih dari itu, ada di saat terluka, menolong disaat terjepit, senang dikala senang, sedih dikala sakit, itu berarti lebih dari apapun biarlah cinta ini tuhan yang mengatur, aku hanya akan menunggu dan berharap, bahwa jodohku adalah dia, si kerudung hitam menawan itu.
Sobat, suratmu ini sampai ketanganku ketika aku final test di hari pertama, aku juga kaget, siapa yang mengirimi aku surat, tak tahunya kau, Karena sudah lama kau tak kirimi aku surat, kukira kau sudah lupa padaku, dan menggantinya dengan kawan yang baru.
Tapi kalau begini kan enak juga rasanya, aku mengetahui kabarmu, dan kau juga mengetahui kabarku, berbagi cerita, berbagi bahagia, aku menulis surat ini sambil membayangkan kau, bagaimana dirimu sekarang, apa masih seperti dulu ?. sudahlah pertanyaan itu biar waktu yang menjawab.
Nah kawan mungkin suratku kali ini tidak bisa kutuliskan terlalu panjang, karena setetangh dari pikiranku saat ini sedang focus ke ujian, mungkin nanti kita kan berbagi kisah lagi, sehat selalu.
Salam sobatmu
Fery indrawan
Perasaan lega mengaliri tubuhku seusai menulis surat ini, ingin rasanya aku berbagi cerita dengannya sambil nongkrong dengan menikmati segelas kopi susu hangat di warung tempat kami biasa santai, bercerita sampai larut, bercerita apa yang sudah kami alami, tapi mungkin itu suatu saat nanti, dan aku selalu berdoa, semoga kami dipertemukan kembali di atas puncak yang sedang kami daki sekarang ini.
…
Ulangan berakhir, hasil nilai pun di umumkan, aku segera berdesak-desakkan di tengah kerumunan, kucari-cari namaku diantara ribuan banyaknya nama, ada hasil nilai yang tak kuduga, rata-ratanya B, ada sedikit C dan ada satu D, sayangnya tidak lengkap, karena nilai A nya tidak ada. Tapi syukur juga aku bisa naik tingkat, dan aku berjanji untuk lebih giat lagi belajar, aku menjauh dari kerumunan itu, pandanganku ke bawah tuk melindungi wajahku.
“ bruk…” tiba-tiba aku menabrak seseorang, buku-bukunya berjatuhan, dia menunduk, aku juga, kubantu dia memunguti buku-buku itu.
“ terima kasih “ ucapnya dan alangkah kagetnya aku ketika melihat siapa dia, dia adalah perempuan yang tempo hari pernah kuceritakan.
Aku terdiam.
“ maaf “ ucapnya lagi.
“ ah ..ah.. ngga papa “ aku bingung mau bicara apa, sambil menggaruk-garuk kepala yang tentu tidak gatal. “ anu,.. kamu… tidak apa-apa kan ?”.
Dia tersenyum dan menjawab “ iya, makasih ya “.
Aku mengangguk “ eh kamu… kan kalau tidak salah… yang di muka gedung ser..baguna kemarin “.
Dia diam sebentar sambil menatap wajahku, lalu aku menunduk, tidak sopan, sebenarnya tidak enak juga sih kalau saling menatap. “ oh kamu ya…yayaya aku ingat , gimana hasil ulangannya ?”.
“ yah lumayan lah “.
Dan percakapan kami pun berlanjut, kubantu dia melihat hasil ulangannya, lalu kami menuju sebuah warung es nyiur di pinggir kampus. Baru kali ini aku merasa lain ketika bicara dengan perempuan, walau awalnya aku sering terbata-bata dan agak grogi ketika bicara, tapi setelah lama bicara akhirnya aku sudah bisa menenangkan diri, bicaraku jadi lancar, dan baru kutahu dia juga anak MIPA, jurusan biologi, yang kutahu waktu melihat hasilnya tadi bisa dinggap dia bukan anak yang suka main-main, nilainya rata-rata B bahkan ada yang A, tidak ada C apalagi D. semakin kagum aku pada perempuan yang satu ini, lama kami bercakap-cakap. Dan kutahu namanya Annisa, nama yang indah menurutku, karena aku suka orangnya. aku pun mengantarkannya pulang, sayang dia bukan orang banjar asli, jadi dia ngekost disini, ingin sih kuajak dia menginap di rumahku, tapi apa kata orang, niat baik selalu disangka buruk.
Aku langsung menulis surat kepada Fadil, kemungkinan dia juga sudah selesai ulangan, apa pun hasilnya kami tetap berbagi, kutulis surat itu dengan cepat dan segera kukirimkan, aku tidak sabar menunggu kedatangan surat itu, padahal baru saja kukirim, sampai juga belum ke tangannya, tapi hampir saja aku memaksa tukang posnya untuk segera mengantar suratku itu hari ini. Kalau itu terjadi yang ada malah suratku yang tidakkan bisa sampai kepada tujuannya.
Selang seminggu kemudian baru aku menerima surat balasan, aku sudah tidak sabar lagi segera kubuka surat itu dan kubaca.
Kawanku Fery…
Aku disini baik-baik saja, walau beberapa hari yang lalu sempat sakit, karena aku suka mengulur-ngulur waktu makan dan aku pun terkena maag, kau sendiri bagaimana,? Aku tahu kau sedang bahagia kawan, ternyata cinta juga yang terpilih, asal jangan kau lupakan kawanmu ini aku tetap kan selalu mendukungmu. Sebenarnya ingin kuulangi teori-teorimu yang selalu mengataskan nama sahabat dari cinta, tak tahunya malah sendirnya terkena cinta.
Tapi tak apalah, satu kata, aku juga bahagia, tapi ingat pesan ustadz kita, jangan sampai kau menorehkan kisahku tuk yang kedua kalinya.
Hasil ulanganku …gimana ya…sebenarnya hasil ulanganku, hampir sama denganmu, tapi aku tidak ada nilai D, juga tak ada nilai A. begitulah, mungkin kita perlu belajar lebih lagi, lebih giat, lebih dari yang kita bisa, belajar dan bekerja, kau tahu kawan, hidup disini aku juga kerja sambilan, membantu di sebuah warung makan, kau tahulah, aku ini orang perantaun, uang itu tidak selamanya kuterima tepat waktu, kadang aku harus puasa, kadang juga aku tidak makan seharian, hanya minum air putih mentah, tapi tuhan tidak pernah membiarkan ku kelaparan, aku dipertemukan dengan seorang pemilik warung makan pinggiran jalan yang baik hati, beliau akan memberiku makan asal aku jadi pelayan disana, jadinya aku tidakkan pernah kelaparan lagi.
Dan kau ingat kawan, pernahkan kuceritakan padamu tentang seseorang lagi yang tengah mengisi hatiku, sampai sekarang aku tidak bisa mengenalnya jauh, mendekatinya saja aku tidak bisa, cintaku seperti di acuhkan begitu saja, tapi aku tetap berusaha , aku mohon doanya kawan, tidak ada hal yang mustahil di dunia ini.
Mungkin sampai sini dulu suratku, lain kali kalau ada cerita menarik kau akan ku kabari, eh bagaimana novelmu, sudah mau diterbitkan belum, kalau belum nanti kirim bersama suratmu, selanjutnya biar aku yang usahakan di jawa sini. Sampai jumpa.
Salam
Fadil
…
November 1997
Waktu terasa begitu cepat berlalu, suara gemuruh membahana di gedung sultan suriansayah ini, tangis haru akan kelulusan kami kian beradu, setelah menmpuh jalan panjang akhirnya aku lulus di tahun keempat, perjalanan yang panjang tapi terasa nikmat dan singkat, ijazah-ijazah kelulusan dibagikan, namaku dipanggil, aku naik ke atas podium dengan bangga karena bisa lulus dengan cepat.
Dari atas panggung kulihat kedua orang tuaku tersenyum bangga padaku, anaknya yang ternyata tidak mengecewakan, di lain sisi kulihat Annisa juga tersenyum, dia sudah lulus lebih dulu dari ku, kuakui dia lebih jenius dariku, aku mengetahui itu ketika kami sering belajar bersama.
Kau tahu kawan aku dan Annisa sudah bertunangan, aku melakukan ini karena dia tidak mau pacaran, lalu aku melamarnya dan dia setuju, katanya dia juga sedang mencari seorang pendamping dari lulusan pesantren, dunia ini seakan harum. Dan artinya aku dan Annisa sudah saling merasa memiliki satu sama lain, senangnya aku, kalian tahu perjuanganku mendapatkannya tidaklah mudah, perlu setengah tahun bagiku untuk bisa mendapatkan hatinya dan baru bisa kulamar. Tapi itulah cinta, perlu diperjuangkan.
Dan sekarang novelku juga sudah menjadi fenomenal yang akan ditayangkan di layar lebar, ini semua berkat Fadil yang mencoba mengajukan naskahku kepada para penerbit yang ada di luar pulau sana, untuk bisa diterima tidaklah mudah, novelku beberapa kali ditolak, aku mencoba mengarangnya lagi, lagi dan lagi sampai akhirnya penitikan ait mata,dan usahaku membuahkan hasil yang pasti, novelku menjadi bestseller nasional “kukibarkan benderaku “ novel yang kutulis dengan mengingat sejarah perjuangan para pahlawan tanah air yang tak kenal menyerah, dibantu oleh kekasihku Annisa novel itu akhirnya menjadi sebuah buku yang diterbitkan di masyarakat. Tapi Fadil, dia menghilang empat bulan yang lalu adalah hari terakhir aku menerima suratnya. Yang kutahu dari berita terakhirnya, perempuan yang ditaksirnya itu menolak mentah-mentah kehadiran dirinya. Tapi sampai sekarang aku tidak juga tahu keberadaannya,kukirim surat ke tempatnya di jawa, kukirim surat ke rumahnya semuanya tidak ada balasan, aku jadi kahwatir.
…
Aku pegang surat terakhir Fadil dengan erat, wisudaku kali ini memang kunikmati, tapi sayangnya aku tidak bisa berbagi dengan sahabatku. Perlahan kubuka surat terakhir itu, dan kubaca.
kawanku Fery
tidak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat kawan, kau ingat dulu waktu kita masih bersama, sekarang kita juga masih bersama, tapi berbeda jarak.
Kau tahu kawan, ternyata pusat ilmu psikolog itu ada di jerman, dan tekadku sudah bulat tuk pergi kesana.
“ mas Fery “ Annisa tiba-tiba menegurku dan menghentikan bacaan ku “ kok nangis kenapa ?”.
Aku segera menyeka air mata dengan lengan bajuku “ ah ngga, ngga ada apa-apa “.
“ cerita dong, sebentar lagi kan kita nikah, masa sama istri sendiri tidak mau cerita “ Annisa menggodaku dengan senyuman manjanya.
Aku balas tersenyum dan kuceritakan semuanya, tentang surat itu, tentang Fadil yang tidak ada lagi memberi kabar, tentang persahabatan kami di masa lampau, dan tentang begitu rindunya aku padanya. Annisa mengerti, perasaan perempuan memang tajam, dan dalam. Dan di saat seperti inilah perempuan dibutuhkan, karena dia mengerti, dan memahami keadaan kita.
…
September 2000
Senangnya hatiku melihat generasi-generasi penerus bangsa ini maju, aku menjadi salah satu juri di sebuah lomba karya tulis ilmiah, tulisan-tulisan mereka lebih hebat, cara berpikir mereka lebih maju dariku. Bangga hatiku memiliki penerus-penerusku yang seperti ini.
Seusai acara para mahasiswa itu menyalamiku dan berfoto bersama, dulu aku yang minta foto bersama, sekarang malah aku yang diminta, kadang ada juga orang yang mendekat sekedar minta tanda tangan di atas novel yang kutulis. Dulu, aku tidak pernah menyangka bisa begini, dulu ini hanyalah mimpi dan anganku seorang, dan sekarang tuhan benar-benar mewujudkannya ke kenyataan yang indah, begitu indah certia yang dimiliki tuhan, sampai tidak bisa kutuliskan dalam kata-kata. kulihat istriku berjalan ke arahku sambil menggendong buah hati kami, Irza rahman, lihatlah mukanya begitu lucu.
“ mirip dengan ayahnya “ kata sang ibu.
“ pasti nanti pintar seperti ibunya “ balasku.
Kami berjalan ke luar gedung, di gedung sebelah Nampak ada sebuah acara seminar, jaman sudah berganti, orang-orang yang dulu sering ikut seminar sekarang malah di undang buat mengisi seminar, tapi…sebuah suara yang kukenal betul dari dulu, suara ini tidak asing lagi, aku meminta istriku tuk menunggu di mobil, dia menurut, aku mencoba mengintip siapa gerangan pemilik suara ini, “ ya allah “ desirku dalam hati, itu Fadil, dia sekarang sedang memberi pengarahan, dengan jas dan pakaian yang rapi, walau sedikit berubah tapi aku tetap mengenalinya, mengenali wajahnya, dan juga auranya, ya auranya yang dari dulu tidak berubah. Dia duduk setelah memberi pengarahan yang tak lama dan keluar lewat pintu belakang, aku besiap di salah satu tiang, kuyakin suara langkah kaki yang sekarang sedang berjalan kesini adalah suara kakinya, dan
“ DO…R“ kukejutkan dirinya.
“ Fery “ ungkapnya kaget dan kami langsung memeluk satu sama lain,
Ingin kumarahi dia yang tak memberi kabar, tapi istriku menelponku tuk segera ke mobil, aku mengiyakan apa katanya, kutatap Fadil.
“ malam ini temui aku di tempat biasa “.
Dia mengangguk.
…
Malamnya.
“ yah maaf lah fer, soalnya setelah itu aku mendapat beasiswa ke jerman, dan aku lupa membawa alamatmu, jadinya sampai sekarang aku tidak bisa mengirimimu surat “.
Aku menyeruput kopisusu hangat lalu berucap “ sudahlah, bagiku itu semua tidak menjadi masalah lagi, yang penting tuhan kembali mempertemukan kita, dan tuhan juga mempertemukan kita dengan mimpi yang sudah kita janjikan ada ditangan kita “
Kami tertawa, dan bersama menyeruput kopi, kadang ada mahasiswa yang nongkrong disini dan menatap kami heran, seorang novelist terkenal sedang duduk bersama seorang pakar psikolog ternama, sedang duduk berbagi cerita dengan pakaian biasa, juga di tempat yang menurut mereka tempat ini hanya untuk mahasiswa yang kurang uang. Semua merasa heran pada kami, kecuali pemilik warung yang sudah kenal lama dengan kami, pada mereka yang terheran hanya kami balas dengan senyuman.
Malam menjadi saksi atas takdir tuhan yang kembali mempertemukan kami, dua orang sahabat yang pernah berjanji bersama tuk meraih mimpi, janji hidup. Sebuah janji tidakkan pernah bisa dihentikan jaman, malam berlalu lambat membiarkan kami berbagi cerita-cerita kehidupan yang telah kami lalui. Bulan dan bintang ikut mendengarkan karena mereka juga yang pernah menyaksikan janji kami, dan pernah menyaksikan perpisahan kami.
Alhamdulillah selesai
Tanggal 02-09-2010
Unuk sahabatku Fadil Muhammad, yang tengah sama-sama berjuang mengejar mimpi.
air mata bisu
Air mata bisu…
DAHULU, dahulu sekali ada sebuah cerita tentang seorang pemuda bernama Ahmad yang mencintai seorang perempuan yang bernama Mirna.
Alkisah tersebutlah Ahmad seorang pelayan di sebuah rumah makan kecil di pinggiran pasar, kerjaannya sehari-hari hanya melayani tamu dan menyajikan makanan, tersenyum dan tidak pernah mengeluh dengan apapun yang terjadi itulah mottonya. Seorang tamu memanggil langsung dia layani dengan sepenuh hati. Siapa yang tidak kenal dengan Ahmad, hampir seluruh isi pasar ini tahu siapa pemuda ini, pemuda baik dan juga ramah yang tidak sombong.
“ hei anak muda, mau kemana kau ?” Tanya salah seorang pemilik toko kain di pasar.
“ mau ke mesjid ba, sudah mau masuk juhur “ begitulah jawaban singkat yang selalu diiringi dengan senyuman hangat.
Ahmad berjalan santai menuju mesjid terdekat, langit cerah, awan tersapu angin dan matahari pun tertutup, gemersek-gemersek plastik yang sering terjadi antara penjual dan pembeli. Kau tahu kawan, setiap selesai sholat Ahmad selalu berdoa agar hidupnya selalu dalam berkah. Sepulang dari mesjid, dia terhenti sebentar di sebuah toko bunga, matanya kini tertuju pada seorang jelita yang berkerudung merah, sungguh menawan, dia tertegun sejenak, menatapi bunga diantara bunga. Lekas Ahmad membuang pandang karena perempuan itu seketika menoleh ke arahnya. Dengan perlahan dia berjalan ke tempat kerjanya.
DAHULU, dahulu sekali ada sebuah cerita tentang seorang pemuda bernama Ahmad yang mencintai seorang perempuan yang bernama Mirna.
Alkisah tersebutlah Ahmad seorang pelayan di sebuah rumah makan kecil di pinggiran pasar, kerjaannya sehari-hari hanya melayani tamu dan menyajikan makanan, tersenyum dan tidak pernah mengeluh dengan apapun yang terjadi itulah mottonya. Seorang tamu memanggil langsung dia layani dengan sepenuh hati. Siapa yang tidak kenal dengan Ahmad, hampir seluruh isi pasar ini tahu siapa pemuda ini, pemuda baik dan juga ramah yang tidak sombong.
“ hei anak muda, mau kemana kau ?” Tanya salah seorang pemilik toko kain di pasar.
“ mau ke mesjid ba, sudah mau masuk juhur “ begitulah jawaban singkat yang selalu diiringi dengan senyuman hangat.
Ahmad berjalan santai menuju mesjid terdekat, langit cerah, awan tersapu angin dan matahari pun tertutup, gemersek-gemersek plastik yang sering terjadi antara penjual dan pembeli. Kau tahu kawan, setiap selesai sholat Ahmad selalu berdoa agar hidupnya selalu dalam berkah. Sepulang dari mesjid, dia terhenti sebentar di sebuah toko bunga, matanya kini tertuju pada seorang jelita yang berkerudung merah, sungguh menawan, dia tertegun sejenak, menatapi bunga diantara bunga. Lekas Ahmad membuang pandang karena perempuan itu seketika menoleh ke arahnya. Dengan perlahan dia berjalan ke tempat kerjanya.
air mata pengemis
Air mata pengemis…
Sengatan matahari seolah tak memberi ampun, hiruk-pikuk, hilir mudik kendaraan bermotor silih berganti, ramainya rumah makan pinggir jalan tarakan ini seolah tak pernah sepi, kompor terus menyala, pelanggan ada, pesanan selalu siap siaga, tersaji dengan cepat dan profesional.
Sambil menunggu azan magrib, aku beserta teman-teman kantorku berbincang-bincang di warung ini, makanan sudah tersaji, tapi azan belum, masa kami mau buka puasa begitu saja. Sejak tadi jari-jari kakiku sudah mulai kegerahan, di dalam sepatu yang panas dan pengap tanpa ada kulepas semenjak pagi tadi, tapi kalau kubuka kasihan orang-orang yang ada disini, kalian mengerti kan maksudku.
“ allahu akbar…allah akbar…”. Suara yang dinanti akhirnya terdengar.
“ Alhamdulillah “ kami berseru, setelah membaca doa bersama aku langsung memakan kurma tiga buah, dan minum air putih hangat. aku tidak terbiasa seperti teman-temanku yang makan begitu saja tanpa ada jeda buat perut tuk istirahat. Aku menjadi terbiasa Karena dulu pernah diajarkan kakekku bagaimana caranya rasulullah berbuka, beliau berkata, “ rasul itu kalau buka puasa selalu di dahului dengan tiga biji kurma, atau lima atau tujuh, dengan air putih sebanyak mungkin, nah setelah lama kedepannya baru makan-makanan hidangan puasanya, kalau langsung makan, enak di mulut, kasihan di perut jadinya “.
Tapi aku tidak bisa terlalu berlama-lama tuk menundda, ini warung, bisa ditinggal temanku nanti.
“ PERGI SANA… “. Suara bentakkan kasar terdengar dari arah sebelah sana, aku menengok seseorang pengunjung sedang memaki-maki seorang pengemis tua, cercaan makian dikeluarkannya tidak tahu malu di depan umum. Aku bingung melihat orang itu, pakaian muslim kemungkinan juga baru buka, tapi akhlaknya itu sungguh bukan seorang yang muslim. Aku kasihan melihat pengemis tua itu. Dari jauh aku memanggil salah seorang pelayan di warung itu dan minta di bungkuskan satu buat pengemis itu, bayarnya ya di diriku.
Suasana di warung mulai menegang, pengemis itu sempat terjungkal ketika di dorong bapak itu, keluarganya mencoba tuk menenangkan si bapak yang sedang marah, pengemis itu juga disuruh segera pergi oleh pemilik warung agar pelanggan yang lainnya tak terganggu, sebelum pengemis itu pergi seorang pelayan yang kusuruh tadi memberikan bungkusan hitam, pengemis itu berterima kasih, tapi sang pelayan menunjuk ke arahku, pengemis tua itu tersenyum padaku, dan kubalas dengan senyuman.
Warung kini mulai tenang, tapi bapak tadi masih belum juga reda marahnya, kata-kata kasar terus keluar dari mulutnya. Aku mendengus kesal, malah dia yang mengganggu, padahal tadi teriak-teriak “ pergi kau pengganggu “. Padahal sendirinya malah mengganngu.
Aku tidak habis pikir kenapa. Teman-temanku sudah mulai beranjak, lelah seharian bekerja mereka ingin segera pulang, istirahat sebentar, mandi lalu sholat tarawih.
“ mas zaini ayo..” ajak Mirda, teman sekantorku.
Aku mengangguk,setelah kuhabiskan minumanku aku beranjak dari sana, tinggal aku dan Mirda, yang lain sudah pulang lebih dulu, sebenarnya Mirda sudah selesai sejak tadi tapi dia menungguku sampai selesai dan kami pulang beriringan.
Besoknya kami berbuka ditempat yang sama.
Suasana disini mulai ramai,kami hampir kehabisan tempat, untungnya pemilik warung itu selalu menyisakan tempat buat kami, aku duduk berhadapan dengan Mirda, menatap wajah cantiknya dari balik kerudung memang tak membosankan. Kalian tahu kawan-seandainya kalian yang duduk disini, di depannya. Kalian tidakkan bergeming dari sini sedikitpun.
“ sudah berapa hari kita puasa mas ?”.
“ dua puluh satu “.
“ tinggal sebentar lagi, lebaran ya mas “.
Aku mengangguk, lama kami larut dalam pembicaraan, saling bercanda, tertawa, kadang ada teman kami yang mengejek kami pacaran, kami apalah sebutannya seperti anak remaja saja. Apa salah kami terlalu akrab, kadang_aku bingung sendiri dengan kehidupan ini.
“ mas zaini lihat “. Mirda menunjuk ke arah seorang pengemis yang diusir paksa oeh seorang pemilik warung yang terletak di sebelah warung ini. Tidak kalah sama orang yang kemarin, padahal ini masih belum buka. Tapi setelah kulihat benar-benar, orang itu adalah pengemis yang kemarin, pengemis tua yang berpakaian lusuh baju kotor compang-camping. Aku tidak tega melihatnya, lagi-lagi kakek itu, batinku berkata.
Setelah berbuka aku tidak langsung pulang, aku memesan satu bungkus lalapan, di warung itu saat bayar. Lalu aku dan Mirda berjalan menyusuri jalanan dekat trotoar di seberang warung, kucari-cari akhirnya ketemu kakek itu aku mendekatinya.
Sengatan matahari seolah tak memberi ampun, hiruk-pikuk, hilir mudik kendaraan bermotor silih berganti, ramainya rumah makan pinggir jalan tarakan ini seolah tak pernah sepi, kompor terus menyala, pelanggan ada, pesanan selalu siap siaga, tersaji dengan cepat dan profesional.
Sambil menunggu azan magrib, aku beserta teman-teman kantorku berbincang-bincang di warung ini, makanan sudah tersaji, tapi azan belum, masa kami mau buka puasa begitu saja. Sejak tadi jari-jari kakiku sudah mulai kegerahan, di dalam sepatu yang panas dan pengap tanpa ada kulepas semenjak pagi tadi, tapi kalau kubuka kasihan orang-orang yang ada disini, kalian mengerti kan maksudku.
“ allahu akbar…allah akbar…”. Suara yang dinanti akhirnya terdengar.
“ Alhamdulillah “ kami berseru, setelah membaca doa bersama aku langsung memakan kurma tiga buah, dan minum air putih hangat. aku tidak terbiasa seperti teman-temanku yang makan begitu saja tanpa ada jeda buat perut tuk istirahat. Aku menjadi terbiasa Karena dulu pernah diajarkan kakekku bagaimana caranya rasulullah berbuka, beliau berkata, “ rasul itu kalau buka puasa selalu di dahului dengan tiga biji kurma, atau lima atau tujuh, dengan air putih sebanyak mungkin, nah setelah lama kedepannya baru makan-makanan hidangan puasanya, kalau langsung makan, enak di mulut, kasihan di perut jadinya “.
Tapi aku tidak bisa terlalu berlama-lama tuk menundda, ini warung, bisa ditinggal temanku nanti.
“ PERGI SANA… “. Suara bentakkan kasar terdengar dari arah sebelah sana, aku menengok seseorang pengunjung sedang memaki-maki seorang pengemis tua, cercaan makian dikeluarkannya tidak tahu malu di depan umum. Aku bingung melihat orang itu, pakaian muslim kemungkinan juga baru buka, tapi akhlaknya itu sungguh bukan seorang yang muslim. Aku kasihan melihat pengemis tua itu. Dari jauh aku memanggil salah seorang pelayan di warung itu dan minta di bungkuskan satu buat pengemis itu, bayarnya ya di diriku.
Suasana di warung mulai menegang, pengemis itu sempat terjungkal ketika di dorong bapak itu, keluarganya mencoba tuk menenangkan si bapak yang sedang marah, pengemis itu juga disuruh segera pergi oleh pemilik warung agar pelanggan yang lainnya tak terganggu, sebelum pengemis itu pergi seorang pelayan yang kusuruh tadi memberikan bungkusan hitam, pengemis itu berterima kasih, tapi sang pelayan menunjuk ke arahku, pengemis tua itu tersenyum padaku, dan kubalas dengan senyuman.
Warung kini mulai tenang, tapi bapak tadi masih belum juga reda marahnya, kata-kata kasar terus keluar dari mulutnya. Aku mendengus kesal, malah dia yang mengganggu, padahal tadi teriak-teriak “ pergi kau pengganggu “. Padahal sendirinya malah mengganngu.
Aku tidak habis pikir kenapa. Teman-temanku sudah mulai beranjak, lelah seharian bekerja mereka ingin segera pulang, istirahat sebentar, mandi lalu sholat tarawih.
“ mas zaini ayo..” ajak Mirda, teman sekantorku.
Aku mengangguk,setelah kuhabiskan minumanku aku beranjak dari sana, tinggal aku dan Mirda, yang lain sudah pulang lebih dulu, sebenarnya Mirda sudah selesai sejak tadi tapi dia menungguku sampai selesai dan kami pulang beriringan.
Besoknya kami berbuka ditempat yang sama.
Suasana disini mulai ramai,kami hampir kehabisan tempat, untungnya pemilik warung itu selalu menyisakan tempat buat kami, aku duduk berhadapan dengan Mirda, menatap wajah cantiknya dari balik kerudung memang tak membosankan. Kalian tahu kawan-seandainya kalian yang duduk disini, di depannya. Kalian tidakkan bergeming dari sini sedikitpun.
“ sudah berapa hari kita puasa mas ?”.
“ dua puluh satu “.
“ tinggal sebentar lagi, lebaran ya mas “.
Aku mengangguk, lama kami larut dalam pembicaraan, saling bercanda, tertawa, kadang ada teman kami yang mengejek kami pacaran, kami apalah sebutannya seperti anak remaja saja. Apa salah kami terlalu akrab, kadang_aku bingung sendiri dengan kehidupan ini.
“ mas zaini lihat “. Mirda menunjuk ke arah seorang pengemis yang diusir paksa oeh seorang pemilik warung yang terletak di sebelah warung ini. Tidak kalah sama orang yang kemarin, padahal ini masih belum buka. Tapi setelah kulihat benar-benar, orang itu adalah pengemis yang kemarin, pengemis tua yang berpakaian lusuh baju kotor compang-camping. Aku tidak tega melihatnya, lagi-lagi kakek itu, batinku berkata.
Setelah berbuka aku tidak langsung pulang, aku memesan satu bungkus lalapan, di warung itu saat bayar. Lalu aku dan Mirda berjalan menyusuri jalanan dekat trotoar di seberang warung, kucari-cari akhirnya ketemu kakek itu aku mendekatinya.
surga buat istriku
Surga buat istriku
Lampu jalanan menyinari Pak Amir yang baru pulang dari mesjid, jalanan kampung tempat tinggalnya sudah mulai gelap, hampir tidak ada suara yang terdengar, kresekan langkah Pak Amir terus berlalu, suara-suara binatang malam terus beradu bertasbih menyebut asma ilahi. Getir jiwa Pak Amir terus mengagungkan asma allah semenjak dari mesjid, jiwa yang selalu bersyukur dan tidak pernah kufur akan nikmat yang diberikan yang maha kuasa, jiwa yang selalu tenang bagai air yang mengalir, walau hidupnya semakin hari semakin sulit, tapi jiwanya semakin hari semakin tenang.
“ assalamualaikum “ ucap Pak Amir ketika sampai rumah.
“walaikum salam, sudah pulang toh pak… “ istrinya, Ibu Raudah menyambut dengan sebuah senyuman, sambil merapikan mukena yang baru dipakainya.
“makan apa kita malam ini bu “.
“ Cuma ada daun singkong ini pak “.
“ jangan bilang Cuma dong bu, alhamdlillah kita masih bisa makan malam ini “ Pak Amir tersenyum, sang istri balas tersenyum kecil. Mereka berdua berjalan menuju dapur yang ada di ruang tengah, dapur sebagai tempat masak, makan juga tidur, karena rumah yang mereka diami hanya memiliki dua ruangan, satu untuk tamu, dan satunya lagi ruangan utama. Mereka makan daun singkong dengan lahap, Nampak pak amir sangat menikmati rejeki yang diperolehnya hari ini. Sang istri pun turut bahagia dikala suaminya senang.
“ kapan ya pak, kita bisa hidup berkecukupan “ ucap sang istri pilu.
“ ibu…dengan yang sedikit ini saja kita tidak bersyukur, bagaimana mau ditambah, ini saja sudah lebih dari cukup bu, napas, sehat, tempat bernaung dan lainya bu, terlalu banyak nikmat allah yang tidak bisa bapak sebut “.
Ibu Raudah tertunduk malu.
Malam cepat berlalu, menyaksikan kedua pasangan suami istri ini yang sudah mulai mencoba tuk terlelap, alunan syair yang terus berganti tiap malam, kehidupan yang tak pernah kenal menyerah. Berganti hari demi hari, mengisi kekosongan hati dan jiwa yang terus menangis dan mengemis kasih kepada allah. Kepada setiap jiwa yang diberinya petunjuk dan kepada hati yang selalu merindukan keagungannya.
Pak Amir terbangun di tengah malam sesuai kebiasaannya, di tengah dinginnya udara malam dia mengambil air tuk berwudhu. Lalu mengganti pakaian dengan pakaian sholat dan sholat malam, dalam rintihan yang tidak dia sangka di dengar istrinya.
“ ya allah tempatkan lah hamba, beserta istri hamba disisimu kelak ya allah, istri hamba adalah istri yang penyayang dan tabah serta setia kepada suami, ampuni dosa-dosanya ya allah, hanya kepadamu hamba bersyujud hanya kepadamu hamba memohon ampun…” Pak Amir terus menangis tiada henti.
Ibu Raudah mengaminkan dengan berlinangan air mata dari kejauhan.
Lampu jalanan menyinari Pak Amir yang baru pulang dari mesjid, jalanan kampung tempat tinggalnya sudah mulai gelap, hampir tidak ada suara yang terdengar, kresekan langkah Pak Amir terus berlalu, suara-suara binatang malam terus beradu bertasbih menyebut asma ilahi. Getir jiwa Pak Amir terus mengagungkan asma allah semenjak dari mesjid, jiwa yang selalu bersyukur dan tidak pernah kufur akan nikmat yang diberikan yang maha kuasa, jiwa yang selalu tenang bagai air yang mengalir, walau hidupnya semakin hari semakin sulit, tapi jiwanya semakin hari semakin tenang.
“ assalamualaikum “ ucap Pak Amir ketika sampai rumah.
“walaikum salam, sudah pulang toh pak… “ istrinya, Ibu Raudah menyambut dengan sebuah senyuman, sambil merapikan mukena yang baru dipakainya.
“makan apa kita malam ini bu “.
“ Cuma ada daun singkong ini pak “.
“ jangan bilang Cuma dong bu, alhamdlillah kita masih bisa makan malam ini “ Pak Amir tersenyum, sang istri balas tersenyum kecil. Mereka berdua berjalan menuju dapur yang ada di ruang tengah, dapur sebagai tempat masak, makan juga tidur, karena rumah yang mereka diami hanya memiliki dua ruangan, satu untuk tamu, dan satunya lagi ruangan utama. Mereka makan daun singkong dengan lahap, Nampak pak amir sangat menikmati rejeki yang diperolehnya hari ini. Sang istri pun turut bahagia dikala suaminya senang.
“ kapan ya pak, kita bisa hidup berkecukupan “ ucap sang istri pilu.
“ ibu…dengan yang sedikit ini saja kita tidak bersyukur, bagaimana mau ditambah, ini saja sudah lebih dari cukup bu, napas, sehat, tempat bernaung dan lainya bu, terlalu banyak nikmat allah yang tidak bisa bapak sebut “.
Ibu Raudah tertunduk malu.
Malam cepat berlalu, menyaksikan kedua pasangan suami istri ini yang sudah mulai mencoba tuk terlelap, alunan syair yang terus berganti tiap malam, kehidupan yang tak pernah kenal menyerah. Berganti hari demi hari, mengisi kekosongan hati dan jiwa yang terus menangis dan mengemis kasih kepada allah. Kepada setiap jiwa yang diberinya petunjuk dan kepada hati yang selalu merindukan keagungannya.
Pak Amir terbangun di tengah malam sesuai kebiasaannya, di tengah dinginnya udara malam dia mengambil air tuk berwudhu. Lalu mengganti pakaian dengan pakaian sholat dan sholat malam, dalam rintihan yang tidak dia sangka di dengar istrinya.
“ ya allah tempatkan lah hamba, beserta istri hamba disisimu kelak ya allah, istri hamba adalah istri yang penyayang dan tabah serta setia kepada suami, ampuni dosa-dosanya ya allah, hanya kepadamu hamba bersyujud hanya kepadamu hamba memohon ampun…” Pak Amir terus menangis tiada henti.
Ibu Raudah mengaminkan dengan berlinangan air mata dari kejauhan.
Langganan:
Postingan (Atom)